Pasca Adanya Larangan Ekspor Bijih Besi, Emas Antam Kian Menyusut

Emas Antam

HarianDepok.com – Bisnis, Penambang BUMN Aneka Tambang, juga dikenal sebagai Antam, berayun ke kerugian pada semester pertama tahun ini dari tahun sebelumnya karena dampak dari larangan soal ekspor bijih mineral dari pemerintah.

Antam membukukan kerugian sebesar Rp 639.000.000.000 ($ 55 juta) pada periode Januari-Juni tahun ini dibandingkan dengan laba Rp 374 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Meskipun kuartal kedua periode 2014 melihat tingkat harga komoditas yang lebih tinggi, kinerja keuangan kami tetap bersemangat di babak pertama sebagai konsekuensi dari kebijakan pemerintah untuk melarang ekspor bijih, ditambah dengan harga jual rata-rata yang lebih rendah pada kuartal pertama 2014, yang mempengaruhi harga komoditas secara keseluruhan di babak pertama,” kata Presiden direktur Antam Tato Miraza dalam pernyataannya.

Antam telah membukukan kerugian karena berhenti pengiriman bijih nikel ke luar negeri pada 12 Januari, sebagaimana diatur dalam UU Minerba 2009 di Indonesia.

Larangan menyebabkan penurunan 36 persen dalam penjualan Antam menjadi Rp 3,9 triliun pada semester pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan emas, yang memberikan kontribusi 49 persen dari total perusahaan, turun 30,6 persen menjadi Rp 1,95 triliun. Penjualan bijih nikel juga turun 95,4 persen menjadi Rp 89 miliar.

Antam telah bergeser fokusnya untuk meningkatkan penjualan feronikel dalam upaya untuk mengimbangi penurunan penjualan emas dan nikel. Penjualan feronikel – campuran besi dan nikel yang digunakan dalam produksi baja stainless – naik 54,5 persen menjadi Rp 1,7 triliun. Penjualan feronikel volume tumbuh 37 persen menjadi 8,900 ton.

Berbasis di Jakarta Antam memiliki target produksi 20.000 ton feronikel untuk tahun ini, naik 40 persen dari tahun lalu.

Tags: