Sekolah Dan Sampah, Masalah Yang Tidak Pernah Selesai di Depok

Sekolah Dan Sampah, Masalah Yang Tidak Pernah Selesai di Depok

HarianDepok.com – Berita , Kemo Santoso dari Badan Musyawarah Pendidikan Swasta (BMPS) di kotamadya, mengatakan bahwa banyak sekolah-sekolah di Depok penuh, meskipun lembaga pendidikan kota telah menetapkan jumlah maksimum 36 siswa per kelas.

Kemo mengatakan dia juga curiga bahwa banyak orang yang bertindak sebagai perantara untuk mendapatkan tempat bagi klien mereka di sekolah-sekolah yang dikelola negara selama pendaftaran siswa baru-baru ini.

Selain masalah kepadatan di sekolah negeri setempat, pemerintah kota Depok juga telah terganggu oleh masalah sampah sejak TPA Cipayung di menjadi penuh atas.

Ketua cabang Depok dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), Diddy Kurniawan, mengatakan situasi sampah adalah masalah serius pemerintahan kota yang belum deselesaikan.

“Depok sebenarnya menghadapi masalah TPA serius dan ribuan ton sampah telah ditinggalkan di beberapa tempat di kota sejak tempat pembuangan Cipayung penuh,” katanya.

Diddy menjelaskan bahwa pemerintah kota memiliki unit pengelolaan limbah yang didirikan pada tahun 2008 untuk menangani sampah, tetapi program-programnya telah terhenti karena alasan yang tidak ditentukan.

“Ini program yang bagus, tapi kami menemukan bahwa ada beberapa langkah yang tidak perlu diambil dalam pelaksanaan program,” katanya, menambahkan bahwa hanya 10 dari pengelolaan sampah 18 sub-unit masih bekerja.

Sementara itu, Alwi Viva Palestine, seorang ahli infrastruktur dari Universitas Indonesia, mengatakan Depok, sebagai kota satelit Jakarta, menghadapi beberapa masalah infrastruktur. Masalah didasarkan sebagian besar di distrik bisnis daripada di pinggiran.

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)