Jumlah pengidap TBC di Kota Depok Paling Tinggi

Jumlah pengidap TBC di Kota Depok Paling Tinggi

HarianDepok.com – Berita , Menurut data yang didapatkan sari Perhimpunan Pemberantasan TB Indonesia (PPTI) Cabang Kota Depok, Sebanyak 1.438 orang masyarakat kota Depok terindikasi menderita penyakit Tuberculosis (TBC). Maka daripada itu pihak PPTI dalam mengantisipasi akan adanya hal tersebut telah membentuk barisan dengan menyiapkan sejumlah Pengawas Menelan Obat (PMO) bagi penderita TBC yang ada di wilayah kota Depok.

Dengan adanya pihak yang mengawasi dalam mengkonsumsi obat TBC, diharapkan dapat menekan jumlah penderita TBC di wilayah kota Depok. Selain daripada itu, hal tersebut juga diharapkan agar masyarakat kota Depok yang terjangkit penyakit TBC dapat segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali.

Ketua PPTI Cabang kota Depok, Anna Rozaliani dalam menanggapi permasalahan tersebut mengatakan, bahwa sampai dengan saat ini penderita TBC yang ada di kota Depok diprediksikannya jauh lebih tinggi dari data yang dimilikinya. Menurut perkiraannya, penderita TBC di kota Depok saat ini sudah mencapai 2.000 jiwa lebih.

“Menurut perkiraan kami, jumlah penderita TBC yang ada di kota Depok jauh lebih tinggi ketimbang data yang kami miliki yaitu sebanyak 2.000 orang lebih. Jumlah ini kami perkirakan karena data yang kami miliki belum ditambah lagi dengan data dari instansi terkait sehingga dapat berubah dan bertambah,” tuturnya di Depok Senin (04/01/2016).

Menurut penjelasannya, diadakannya pengawas PMO dalam menangani penyakit TBC di kota Depok dimaksudkan agar dapat membantu masyarakat kota Depok yang memang sudah positif terindikasi mengidap penyakit TBC untuk mengkonsumsi obat. Hal tersebut memang sengaja dilakukan oleh pihaknya dikarenakan oleh para pengidap penyakit TBC diharuskan untuk meminum obat secara rutin selama enam bulan lamanya.

Dengan dilakukannya hal tersebut, maka setiap penderita dapat dikontrol dengan baik secara rutin dalam mengkonsumsi obat obatannya. Apakah benar mereka telah mengkonsumsi obat obatannya sesuai dengan anjuran ataukah tidak. “Ini kami sengaja lakukan guna mengantisipasi akan adanya penderita yang tidak mengkonsumsi obat obatannya secara rutin,” jelasnya.

Ia juga mengatakan bahwa adanya pengawasan terhadap para penderita TBC tidak selamanaya berjalan mulus yang dimana para petugas kebanyakan terkendala dengan adanya keengganan para pasien untuk meminum obat secara rutin dikarenakan bosan akibat jangka waktu pengobatan yang memakan waktu setengah tahun lamanya.

“Memang ada yang sudah terlihat baik dalam jangka waktu satu bulan pengobatan, namun untuk memaksimalkan pengobatan harus tetap dituntaskan selama enam bulan lamanya. Oleh sebab itu kami telah menyiapkan sejumlah pengawas di setiap Kelurahan untuk terus memonitoring para pasien agar jangan sampai tidak menyelesaikan masa pengobatannya,”ujarnya.(Izl)

[ AndriIdaman/HD ]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)