Tradisi Menato Wajah Wanita Untuk Sembunyikan Kecantikan

tradisi-menato-wajah-wanita-untuk-sembunyikan-kecantikan

HarianDepok.com – Berita Unik – Tato merupakan sebuah budaya yang berasal dari peradaban-peradaban kuno yang ada. Bagi banyak masyarakat adat, tato ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar seni. Di wilayah perbukitan Provinsi Chin di Myanmar, menato seluruh wajah bagi wanita sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Selama beberapa generasi, budaya ini sudah menjadi ritual bagi wanita dewasa di wilayah tersebut.

Dilansir dari National Post, budaya ini sudah diterapkan untuk waktu yang lama. Wanita Chin sebelumnya telah dikenal memiliki kecantikan yang luar biasa di seantero Myanmar. Pada masa itu, raja Myanmar kerap berkeliling ke wilayah-wilayah yang dikuasainya dan kemudian membawa beberapa wanita yang cantik untuk dimilikinya. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, beberapa tetua desa terutama yang wanita mulai memutuskan untuk menato wajah gadis-gadis yang cantik untuk menyamarkan kecantikan mereka.

Walaupun pada mulanya tindakan ini untuk membuat mereka terlihat buruk rupa tetapi seiring berlalunya waktu tato ini malah dianggap cantik oleh masyarakat Chin. Selain itu tato ini juga menjadi lambang kekuatan dan kecerdasan bagi mereka. Pada masa lalu, para lelaki dari suku Chin akan berebut wanita yang memiliki tato di wajah.
Tato ini mulai dilakukan pada wanita ketika mereka telah puber sekitar usia 11 hingga 15.

Tidak ada upacara khusus ketika dilakukan proses tato ini. Proses menato wajah ini sangat menyakitkan dan bahkan terdapat kesulitan untuk membuka mata beberapa minggu setelah ditato. Selain itu efek lain yang biasa terjadi adalah tidak dapat berbicara untuk beberapa waktu karena bibir yang membengkak.

Photo Credit : Eric Lafforgue

Sayangnya saat ini tradisi ini mulai ditinggalkan oleh banyak wanita muda. Banyak wanita dari suku Chin sudah pindah ke kota dan menganggap tato di wajah sudah tidak relevan lagi dengan mereka. Tradisi tato ini sudah di ambang kepunahan dan hanya terdapat pada wanita-wanita lanjut usia di suku Chin saja.

[Irma wulandari/HD]

Tags:
author

Author: 

Publisher & Content Writer