Perceraian di Kota Depok Mencapai 50 Kasus Per Harinya

Perceraian di Kota Depok Mencapai 50 Kasus Per Harinya

HarianDepok.com – Berita , Banyaknya kasus perceraian yang terjadi di wilayah kota Depok, menjadi salah satu persoalan yang paling krusial untuk ditangani. Mulai dari permasalahan orang ketiga, ekonomi, kekerasan di dalam rumah tangga sampai dengan adanya pasangan yang sudah tidak lagi saling mencintai menjadi beberapa alasan pada saat mengajukan perceraian ke pengadilan.

Meski sudah diberikan arahan oleh petugas  dan bimbingan untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangganya sehingga para pelapor menangguhkan laporannya tersebut, namun masih saja perceraian masih tetap dilakukan oleh para pelapor dan tetap berniat melanjutkan perceraiannya sampai selesai sehingga membuat petugas tidak bisa melakukan hal apapun lagi selain memproses pengajuannya tersebut.

Menurut data yang dimiliki oleh Pengadilan Agama kota Depok, dalam sehari sebanyak 50 Pasangan Suami Istri (Pasutri) yang mengajukan perceraian sehingga menjadikan kota Depok sebagai salah satu kota dengan kasus perceraian yang paling tinggi diantara kota kota lainnya.

Sekretaris Pengadilan Agama Kota Depok, Entoh Abdul Fatah dalam tanggapannya mengenai permasalahan tersebut mengatakan, pada tahun 2015 ini kasus perceraian di dalam rumah tangga bertambah jumlahnya dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya yang dimana kebanyak para pengaju perceraian lebih didominasi oleh kaum perempuan.

“Dalam sehari sebanyak 50 pasangan suami istri mengajukan perceraian yang disebabkan oleh faktor ekonomi, kekerasan di dalam rumah tangga dan orang ketiga. Pihak kami pun juga telah berusaha memberikan nasihat dan bimbingan kepada mereka untuk membatalkan niatnya untuk bercerai, namun kebanyakan mereka masih tetap memilih bercerai,” tuturnya di Depok, Jum’at (25/09/2015).

Untuk mengatasi tingginya jumlah kasus perceraian yang ada di Kota Depok, Entoh pun juga kerap melakukan penyuluhan kepada masyarakat akan dampak yang ditimbulkan dari perceraian. Meskipun hal ini menjadi beban Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, namun pihaknya tetap melakukan hal tersebut dengan harapan kasus perceraian dapat ditekan seminim mungkin.

“Dalam tugas kami untuk mencegah terjadinya perceraian, kami hanya mempunyai wewenang hanya pada saat kasus perceraian telah masuk ke pengadilan agama dengan mencoba memberikan solusi dan arahan kepada kedua belah pihak agar tidak meneruskan perceraiannya. Namun, hasil daripada mediadi yang dilakukan oleh petugas hanya mampu menekan lima persennya saja dari total kasus yang masuk ke pengadilan,” katanya.

Dirinya pun berharap akan adanya solusi dari pemerintah kota (Pemkot) Depok dalam menekan kasus perceraian yang saat ini terbilang cukup tinggi di wilayah kota Depok.(Izl)

[EniGayoe/HD]

Tags:
author

Author: 

Penulis Konten - Author Di Harian Depok