Kadisdik Depok, Herry Pansila : Guru Di Depok Kurang Inovatif

Kadisdik Depok, Herry Pansila - Guru Di Depok Kurang Inovatif

HarianDepok.com – Berita , Sungguh memprihatinkan dunia pendidikan di kota Depok saat ini. Pasalnya, sebanyak 3000 tenaga pengajar yang tersebar di seluruh sekolah di kota Depok, hanya ada 900 tenaga pengajar yang memenuhi standar sertifikasi guru dalam memberikan pelajaran terhadap siswa siswi di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Depok, Herry Pansila dalam tanggapannya mengenai rendahnya mutu tenaga pengajar di wilayahnya saat ini mengatakan, sebanyak 70 persen tenaga pengajar negeri di kota Depok, dianggapnya sebagai tenaga yang tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai guru.

“Guru yang ada di Depok itu kurang inovatif dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Mereka ini tidak mampu dalam mewujudkan lingkungan belajar yang kreatif,” ujarnya di Depok, Jum’at (28/08/2015).

Dari keterangannya, sebanyak 3000 tenaga pengajar yang tersebar di sekolah negeri yang ada di wilayah kota Depok, mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dari hasil pengawasannya di beberapa sekolah, kualitas mengajar para guru terlihat masih tidak sesuai dengan sertifikasi standar mutu yang mereka dapatkan.

“Cara mengajar mereka jauh dari standar sertifikasi yang mereka peroleh. Bahkan, pada beberapa waktu lalu saya juga menemui adanya guru yang sudah bersertifikat sebagai pendidik mangkir pada saat jam mengajar. Ini saya sangat sesalkan karena saat ini siswa siswi perlu mendapatkan pendidikan yang baik,” paparnya.

Selain daripada iitu Herry pun juga mencontohkan, guru kelas yang kerjanya hanya duduk duduk saja dan mendiamkan siswa yang mengobrol serta bolak balik jalan sana sini menjadi faktor pengganggu proses belajar mengajar di kelas sebelahnya. Inilah yang masih menjadi perhatian pihak Disdik Kota Depok dalam membenahi dunia pendidikan di kotanya.

Ditambahkannya, saat inipun, para guru lebih banyak memfokuskan diri kepada pekerjaan sampingannya sebagai pengajar di luar sekolah, dikarenakan waktu yang ditetapkan oleh pemerintah untuk mengajar hanyalah 24 jam per minggu. “Setelah jam mengajarnya selesai mereka langsung pergi dan melakukan aktivitasnya diluaran,” katanya.

Oleh karena itu, Herry meminta kepada Kementerian Pendidikan untuk dapat segera merevisi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2015 mengenai Jumlah Jam Belajar Tahun 2015. Yang pada saat ini hanya 24 jam per minggu menjadi 40 jam per minggu.(Izl)

[MuhammadKhotib/HD]

Tags: