Permintaan Rumah Menengah Bawah Terus Meningkat

Permintaan Rumah Menengah Bawah Terus Meningkat

HarianDepok.com – Properti , Permintaan rumah menengah bawah tidak pernah surut disebabkan oleh factor kebutuhan yang semakin tinggi. Bahkan para pengembang di segmen rumah murah ini pada semester I 2015 mengaku penjualannya meningkat 20 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Menurut Daniel Djumali, Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), menyatakan bahwa segmen rumah menengah bawah ditopang oleh kebutuhan masyarakat yang tinggi terhadap rumah layak huni.

Dia mengatakan jika setiap tahun kebutuhan rumah mencapai hingga 800 ribu unit lebih, dan akan terus bertambah akibat rendahnya pasokan setiap tahun yang hanya berkisar antara 150 ribu sampai 200 ribu. Selain pasarnya sudah sudah pasti, penurunan daya beli di segmen menengah juga berpengaruh positif pada permintaan rumah menengah bawah baik yang bersubsidi ataupun yang non-subsidi. Pengembang Perumahan Garden City Residence di Tangerang, Banten, itu mengaku penjualan rumah-rumah menengah bawahnya mengalami kenaikan hingga 20 persen pada paruh pertama tahun ini.

Kondisi seperti itu berbanding terbalik dengan penjualan di segmen menengah atas yang rata-rata turun di atas 40 persen pada semester I 2015. Menurutnya, pada semester II 2015 permintaan rumah di segmen bawah ini diharapkan akan tetap positif apalagi jika pemerintah konsisten ikut mendorong program sejuta rumah. Ia berpendapat bila rencana pemerintah yang akan menambah skim pembelian untuk rumah subsidi mulai 2016 diklaim bakal menjadi stimulus bagi pasar perumahan menengah bawah pada tahun depan.

Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pun menjamin skim pembiayaan perumahan pada 2016 akan lebih baik dan lebih komplit daripada tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya kredit Pemilikan Rumah berbasis Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR-FLPP), namun akan disediakan juga skim Subsidi Uang Muka (SUM) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB). Menurut Maurin Sitorus selaku Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan mengatakan, Program Sejuta Rumah pada tahun depan sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Berbeda dengan tahun ini, dimana pembiayaan FLPP hanya Rp 5,1 triliun, jika mengingat pencanangan program itu baru akan dilaksanakan pada 29 April 2015 atau setelah APBN dan APBN-P 2015 disahkan. Menurutnya, Kementerian PUPR sudah mengajukan pagu indikatif untuk membiayai pembangunan perumahan pada tahun 2016 terhadap Kementerian Keuangan Pagu Indikatif yang diajukan mencapai hingga senilai Rp 9,3 triliun untuk KPR FLPP, dan untuk subsidi selisih bunga senilai Rp 900 miliar.

[ MuhammadKhotib/HD ]

Tags: