Muhammadiyah dan NU Protes Terhadap Sabda Raja Yogyakarta

 

Muhammadiyah dan NU Protes Terhadap Sabda Raja Yogyakarta

HarianDepok.com – Berita – Nasional , Beberapa organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama ikut angkat bicara terkait Sabda Raja Sultan Hamengku Buwono X yang menuai pro dan kontra di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta. Kedua ormas Islam besar tersebut menyayangkan dan mencemaskan penguasa Keraton Yogyakarta yang mengubah gelar “Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat”.

Seperti yang dikatakan Heni Astiyanto, Ketua Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Rabu (06/05/2015), “Penghapusan gelar pemimpin agama itu praktis mengubah pakem Keraton Yogya yang selama ini beridentitas sebagai Kerajaan Mataram Islam,” ujar kepada Tempo, kemarin. Menurutnya, Sultan tidak perlu menghapus gelar khalifatullah itu kalau tujuannya hanya untuk memodernisasi nilai dalam keraton. Ia melanjutkan, Jabatan khalifatullah secara harafiah tidak merujuk jika Sultan hanya sebagai pemuka untuk umat Islam semata.

“Khalifatullah mempunyai arti pemimpin yang mengatur bumi, bukan pemimpin agama tertentu saja,” tegas Heni. Dia menambahkan, jika gelar itu dihapus, berarti akan ada raja baru. “Tapi dari kerajaan mana? Wong Keraton Yogya itukan Mataram Islam.” Heni menuturkan,, Muhammadiyah sangat menghargai nilai tradisi dalam keraton. Namun jika Sultan H.B. X ingin memunculkan paradigma baru melalui Sabda Raja, dia berharap tidak menabrak pakem dan ideologi tradisi yang telah dijaga bersama selama ini.

“Tradisi keraton itu sudah baik, jadi tidak perlu diubah lagi karena akan membingungkan masyarakat,” ungkapnya dia. Terkait keputusan Sultan mengangkat putri sulung G.K.R. Pembayun menjadi putri mahkota termasuk yang dinilai Heni menabrak adat keraton itu. “Kami tak setuju dengan raja perempuan) bukan bicara tentang kesetaraan namun pakem adatnya,” ucapnya. Menurut Jadul Maulana, Wakil Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Yogyakarta juga khawatir penghilangan gelar khalifatullah akan membuat Keraton Yogya mengalami disorientasi.

Menurutnya, khalifatullah menjadi salah satu bagian utuh ajaran Al-Quran. “Bukan untuk tujuan diskriminatif, tapi membimbing pemimpin supaya dapat menjalankan perilaku sesuai ajaran Allah. Ini sifatnya universal,” tutur Jadul. Jadul menilai, kalau Sultan H.B. X menghilangkan gelar khalifatullah, itu sama saja dengan bunuh diri kebudayaan. Dia menyebutkan, kekhalifahan di Keraton Yogya seumur dengan kehalifahan yang pernah hidup di dunia berabada-abad silam, seperti di Iran dengan Kekhalifahan Shalafiyah dan Mughal di India yang saat ini telah punah.

[ MuhammadKhotib/HD ]

Tags:
author

Author: 

Writer and Author In HarianDepok