Balita Di Hongkong Dipaksa Kursus Sebelum Masuk TK

balita-di-hong-kong-dipaksa-kursus-sebelum-masuk-tk

HarianDepok.com – Berita Unik – Percaya atau tidak, kompetisi untuk mendapatkan pendidikan yang baik di Hong Kong sudah dimulai sejak anak-anak berusia di bawah lima tahun. Balita di China sudah harus mengikuti kursus khusus untuk meningkatkan kemampuan mereka agar bisa diterima di TK atau Playgroup yang baik.

Kebanyakan orang tua tentu tak memusingkan tentang pelajaran yang diterima anak mereka di TK. Anak-anak biasanya diajari menyanyi, mengenali warna, atau bermain. Namun orang tua di Hong Kong tampaknya tak setuju. Mereka berpendapat bahwa fase TK sangatlah penting dan bisa mempengaruhi masa depan anak mereka. Mereka percaya bahwa anak-anak harus dimasukkan ke TK terbaik yang nantinya bisa membawa mereka masuk ke SD dan SMP terbaik.

“Ini adalah satu-satunya topik yang dibahas ketika berbicara dengan para orang tua. Ke TK mana anakmu kau sekolahkan, apakah kau sudah mempersiapkan anakmu dengan baik, dan lainnya,” ungkap seorang ibu, seperti dilansir oleh Oddity Central.

Bahkan, seorang ibu yang tinggal di Hong Kong sudah mulai merencanakan ke Playgroup dan TK mana dia akan menyekolahkan anaknya yang masih ada dalam kandungan. Menurutnya, di Hong Kong, reputasi Playgroup dan TK yang didatangi anakmu sangat diperhatikan ketika dia akan masuk SD.

Salah satu Playgroup paling bergengsi di Hong Kong menerima 1.000 surat lamaran setiap tahun, sementara hanya ada beberapa lusin tempat yang tersedia. Hal inilah yang membuat banyak orang tua berlomba-lomba meningkatkan kemampuan anaknya agar bisa bersaing dalam masuk Playgroup dan TK dengan mendaftarkan mereka ke kursus khusus.

Yoyo Chan, seorang balita yang baru berusia 1,5 tahun, sudah dilatih untuk menjawab wawancara yang nantinya akan ditanyakan saat dia masuk Playgroup. Dia dimasukkan tempat kursus dan diajarkan sopan santun ketika berbicara dengan pewawancara, dan orang lain. Dia juga dilatih untuk bisa menghapal angka, membangun lego, dan menyebutkan anggota tubuh dengan lengkap. Tak hanya itu, balita itu juga harus sudah bisa menggambar dan menyebutkan nama-nama buah.

“Kelas kursus dan wawancara ini memang membutuhkan kerja keras. Tapi aku ingin dia (Yoyo Chan) siap ketika menghadapi wawancara. Kebanyakan orang tua ingin anaknya memiliki langkah awal yang baik,” ungkap Emma, ibu Yoyo Chan.

Emma juga mengaku akan melakukan hal yang sama untuk anaknya yang kedua yang saat ini masih bayi. Bahkan Emma merencanakan akan memasukkan anak keduanya untuk kursus pada usia delapan bulan!

Biaya kursus ini juga sangat mahal. Untuk pelatihan selama 12 sesi, orang tua harus membayar USD 580, atau sekitar Rp 7,5 juta. Biasanya orang tua tak hanya memasukkan anaknya pada satu kursus, tetapi beberapa kursus yang menawarkan pelatihan keterampilan yang berbeda.

Leung Wai-fan, seorang kepala sekolah TK King Shing, menjelaskan kekhawatirannya pada fenomena ini. Dia berpendapat bahwa pendidikan di Hong Kong menjadi terlalu cepat, komersil, dan menekan anak-anak.

“Anak-anak tak seharusnya belajar seperti itu. Kami berusaha mengatakan pada para orang tua bahwa pendidikan adalah proses seumur hidup, bukan untuk alasan praktis semacam ini,” jelas Leung.

Hal ini disetujui oleh Dr Lam Ho Cheong, seorang profesor pemerhati perkembangan pendidikan anak di Hong Kong Institute of Education. Menurutnya, anak memang perlu didorong untuk belajar, namun pemaksaan justru bisa berakibat buruk untuk otak dan mental mereka. Bisa jadi anak akan kehilangan minat untuk belajar saat dewasa.

 

 

 

[Irma wulandari/HD]

Tags:
author

Author: 

Publisher & Content Writer