Keturunan Aktor, Idris Sardi Pun Perankan Lelaki Impoten

HarianDepok.com – Selebriti – Ada sekitar 189 film Indonesia dalam rentang tahun 1960- 1992, di mana ilustrasi musiknya digarap oleh almarhum musisi Idris Sardi. Artinya, jika dihitung secara rata-rata dalam setahun hampir 6 buah ilustrasi film dikerjakannya atau satu film untuk setiap dua bulan. Sebuah angka yang tidak kecil bagi kontribusi dunia film Tanah Air dengan segala tingkat kesulitannya.

Buku biografi berjudul Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia karya budayawan dan politisi Fadli Zon, mengisahkan kedekatan seorang Idris Sardi pada dunia akting. Darah aktingnya mengalir bakat dari ibunya, yang memang seniman akting dan film, sementara darah musisi dari ayahnya, seorang keturunan musisi kerajaan Yogyakarta.

Ayah Idris, Mas Sardi adalah seorang ilustrator musik film pertama dalam sejarah perfilman Indonesia. Lewat JIF (Java Industrial Film Coy) yang dipimpinnya secara khusus mengawali ilustrasi film bersama sejumlah penyanyi keroncong seperti Miss Riboet dan Miss Brintik. Film Alang-Alang (1939), Matjan Berbisik (1940), Melati Van Agam (1940), Retjon Ajteh (1940), Si Gomar (1941), Sigala Item (1941) di antara film yang ilustrasinya digarap Mas Sardi.

Kakek Idris dari ayah Idris bernama Soekamto atau Norma atau Sorno Waditro adalah pemain Orkes Keraton Yogyakarta. Begitu juga dengan buyutnya, Raden Mas Soeprapto adalah pemain Orkes Keraton Yogyakarta yang dibentuk Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada abad 18.

Sementara ibunda Idris Sardi, Hadidjah adalah seorang bintang akting tahun 1936, di mana orang tuanya Harun Seman dan Habibah juga seniman panggung dan film masa itu. Bahkan kakek Hadidjah, Moesa Pancho adalah putra Ternate pemain sandiwara dan film yang terkenal di seluruh Asia.

Hadidjah sendiri pernah menjadi pemeran utama film Alang-Alang (1939), Roesia Si Pengekor atau Hadji Saleh ( 1939), Matjan Berbisik (1940), Retjon Ajteh (1940), Si Gomar (1941), Singa Laoet (1941) dan Sigala Item (1941). Dia diminta berhenti berakting oleh suaminya, karena persalinan dan membesarkan delapan anaknya. Namun setelah Mas Sardi wafat, Hadidjah kembali ke dunia film.

Sementara nenek Idris, Habibah atau Mak Bibah pernah bermain di film Fatima (1938), Dasima (1940), Matjan Berbisik (1940), Tengah Malam (1954), Cinta Pertama (1973), Buaye Gile (1974), Senyum di Pagi Bulan Desember (1974),  Hippies Lokal (1976), Terminal Cinta (1977), Puber (1978), Dendam Manusia Harimau (1981).

Darah musik dan akting bertemu dalam diri Idris Sardi, kendati dia lebih dikenal sebagai seorang musisi atau pemain biola. Namun ayah Lukman Sardi ini juga pernah menjajal dunia akting, bahkan pernah mendapat peran utama dalam film Tiada Waktu Bicara (1974).

Film Tiada Waktu Bicara disutradarai oleh Sandy Suwandy Hassan, yang juga penulis cerita. Idris yang saat itu merangkap sebagai ilustrator musik, dipasangkan dengan Sarimah Yusof (bintang terkenal asal Malaysia) dan Rachmat Hidayat. Film ini semula berjudul Golden Fingers tapi kemudian diprotes dan diganti judul.

Idris benar-benar bermain karakter karena memang mengandalkan akting. Filmnya berdurasi 96 menit itu tidak banyak dialog.

Kisahnya tentang Idris (diperankan Idris Sardi) yang impoten sehingga tidak memberikan kepuasan batin pada istrinya. Dia mengunjungi rumah lokalisasi untuk mendapatkan daya seksnya kembali. Namun saat sadar dan berobat ke Tokyo, justru istrinya selingkuh dengan pria lain dan hamil.

“Wah film itu gila sekali. Karena tidak ada dialog, hanya mengandalkan musik, saya jadi harus berperan maksimal. Saya harus bisa menggambarkan kepada penonton tentang maksud dari adegan yang sedang saya mainkan. Semuanya harus bisa saya gambarkan melalui kekuatan akting. Dan alhamdulillah dengan seiizin Allah saya bisa menyelesaikan film ini dengan baik,” kataIdris Sardi menggambarkan aktingnya. (kpl/dar)

[ADM/HD]

(Sumber :Kapanlagi.com)

Tags:
author

Author: 

Publisher & Content Writer