Dirgahayu Depok dan Sejumlah Pekerjaan Rumah

HUT ke-16 Kota Depok di Meriahkan Oleh Pawai Budaya

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Tepat pada tanggal 27 April, Kota Depok, Jawa Barat, memperingati hari jadinya yang ke 16 tahun. Pada helatan ulang tahun 2015 kali ini pemerintah kota mengusung tema yang sarat makna; “Kita Pupuk Rasa Kebersamaan”.

Peringatan hari jadi kota yang lekat dengan legenda Margonda tahun ini terasa berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya. Istimewa karena tahun ini merupakan peringatan ultah kota Depok terakhir yang akan dirasakan kebersamaan khidmatnya oleh Nurmahmudi Islmail sebagai Walikota, yang telah menjabat selama dua periode.

Di usianya yang masih sangat muda, tentu kita berharap Kota Depok senantiasa dirgahayu menuju satu kebaharuan kota yang maju sejahtera sebagaimana visi misi pemerintah. Tidak semata menjadi penyangga ibu kota Jakarta dan daerah sekitarnya tapi juga terus bersaing menjadi barometer bagi kota lainnya di Indonesia.

Selama kurang lebih 10 tahun periode kepemimpinan Nurmahmudi, tidak dinafikkan Depok menuai banyak capaian membanggakan. Sejumlah prestasi sukses diukir seperti meraih penghargaan di bidang kebijakan, akuntabilitas, dan keterbukaan informasi.

Kita sama-sama tahu Depok juga sukses menggondol anugerah Parahita Ekapraya tingkat madya nasional dari Presiden RI yang terkait dengan pengarusutamaan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak di berbagai sektor pembangunan. Depok juga dinobatkan sebagai penyelengga pemerintah daerah terbaik peringkat ke-4, meraih piagam Adipura 2013, dan peraih penghargaan kota layak anak.

Selain itu, atas peranya dalam mengembangkan potensi pangan nasional, Nurmahmudi mendapatkan anugerah sebagai walikota teladan dalam gerakan diversifikasi pangan tahun 2013 dan sukses meraih peringkat empat kota terbaik dalam implementasi keterbukaan informasi publik serta masih banyak deretan prestasi lainnya.

Kendati telah seabreg prestasi diukir, mandat dari masyarakat bukan berarti paripurna. Serangkaian program dan agenda pembangunan menuntut adanya penyempurnaan di tengah era keterbukaan informasi saat ini dimana masyarakat memiliki akses luas memantau langsung pemerintahan.

Terutama menyangkut program unggulan yang selama ini telah menjadi rencana pembangunan pemerintah kota, khususnya rencana pembangunan Kota Depok tahun 2011-2016 yang mengusung empat program prioritas untuk memecahkan permasalahan utama yang dihadapi oleh Kota Depok, yaitu kota tertib dan unggul, bersih dan hijau, kota layak anak, dan Depok cyber city.

Menjadi Barometer

Salah satu yang patut diapresiasi dari walikota Nurmahmudi yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini adalah program One Day No Rice (ODNR) yang digagasnya untuk menggalakkan diversifikasi pangan nasional. Meski kita tahu kota Depok sebenarnya nihil peruntukan areal persawahan dan pertanian karena dipicu salah satunya pertumbuhan kebutuhan akan bangunan, langkah progresif pemerintah untuk diversifikasi ini merupakan terobosan bagus dimana program ODNR ini diklaim mempengaruhi penurunan konsumsi beras di kota Depok yang diikuti bertambahnya jumlah perusahaan dan warung makan yang menyediakan menu non-beras. Penurunan terjadi dari angka 97 kg beras per kapita pada tahun 2011 menjadi 90 kg per kapita pada tahun 2014.

Melalui pengurangan konsumsi beras dengan tidak menggunakan menu beras satu hari dalam satu minggu (tiga kali makan dalam sehari) dengan asumsi konsumsi masyarakat Indonesia 139,15 kg/kapita/ tahun dan jumlah penduduk tahun 2011 sebanyak 242,3 juta jiwa, berarti dapat menambah stok beras sebanyak 4,8 juta ton, dengan asumsi harga beras pada tahun 2011 sebesar Rp. 7.300 (harga eceran kabupaten/kota), maka ekuivalen dengan penambahan stok beras senilai Rp. 35,4 triliun. (Majalah Tannas, Lemhannas, Mei 2013)

Dengan gagasan ini, kota Depok, seperti kita tahu, segera menjadi barometer penerapan program ODNR secara nasional dan kini telah dicontoh wilayah lainnya seperti Pemprov Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Lampung Selatan, Sukabumi, Bandung, Jayapura, Kendari, dan Kota Samarinda.

Sejumlah PR

Bahwa bak seorang remaja, Kota Depok kini memasuki masa puber yang dalam pada itu seabreg masalah “jerawat” yang akan mengganggu. Seiring dengan itu ancaman dekaden pasti selalu ada. Karenanya, langkah-langkah progresif dalam pembangunan menjadi mutlak adanya.

Jelang Pilkada Depok Desember mendatang, sejumlah pekerjaan rumah (PR) tetap menanti dituntaskan pemerintah kota, yang tentu tidak saja menjadi pekerjaan hulubalang yang menjabat saat ini. Selain harus memastikan suksesi kepemimpinan yang beralih secara demokratis, aman, dan damai, pemerintah juga dituntut tetap fokus memperhatikan beberapa hal.

Pertama, tata ruang dan tata kota masih menjadi hal krusial. Pertumbuhan penduduk yang relatif pesat yakni mencapai 1.962.160 jiwa pada 2013, ini kemudian dipastikan memicu tingginya kebutuhan akan bangunan. Karenanya pemerintah harus tetap memastikan ketersediaan ruang terbuka hijau dan konservasi air yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan misi mewujudkan lingkungan yang nyaman Kota Depok sebagai sebuah kota layak anak (baca: manusia).

Berkaitan dengan itu, pembenahan infrastruktur transpotasi juga mendesak dilakukan Pemerintah Kota Depok, sebab faktanya kota ini kian hari semakin dihantui kemacetan yang menggila khususnya di jam-jam sibuk. Jangan sampai betul terjadi yang dikhawatirkan berbagai pihak, bahwa Depok mengalami keterputusan (disconnection) dengan sumber-sumber daya yang dimilikinya di mana kota ini terlalu berorientasi pada Jakarta, namun abai mengelola potensi yang justru bisa dijadikan nilai tambah.

Kedua, masalah pengangguran yang relatif masih tinggi. Survei Angkatan Kerja Nasional menyebutkan pada tahun 2013 penduduk kota Depok yang menganggur sekitar 68.669 jiwa. Adapun yang tergolong angkatan kerja sebanyak 894.860 umumnya berprofesi sebagai buruh, karyawan atau pegawai. (Kota Depok Dalam Angka, 2013-2014).

Karenanya, hemat kami, pemerintah perlu mendorong pertumbuhan wirausaha yang tren-nya memang masih rendah yakni hanya 16.34 persen. Bahkan pekerja lepas (freelancer) hanya 5 persen yang di dalamnya mencakup industri kreatif digital. Tentu sektor ini harus meniadi perhatian agar cyber city kelak menjadi ikon Depok yang digalakkan oleh anak-anak muda.  Dalam hal ini pemerintah harus aktif melibatkan organ kepemudaan dalam membangun Kota Depok.

Ketiga, tradisi pemerintah yang sejauh ini cakap mengelola berbagai potensi konflik di masyarakat khususnya menyangkut SARA perlu terus dilanjutkan oleh pemimpin periode selanjutnya. Manajemen konflik dan profil pemimpin yang mengakar di masyarakat hendaknya perlu ditiru oleh walikota selanjutnya. Meski, tentu saja, pemangku amanat pemerintah kota saat ini tetap memiliki sejumlah kekurangan di sana sini.

Akhirnya, sebagaimana tema ultah ke-16, “Kita Pupuk Rasa Kebersamaan”, Kota Depok dapat bertumbuh lebih baik dengan peran aktif masyarakat secara luas. Karenanya, ego sektoral komponen masyarakat yang beragam latar belakang harus dilucuti untuk membangun Depok dengan semangat kolektifitas.

Kiriman dari :

AInuddin Chalik Foto

 

 

 

 

 

 

Ainuddin Chalik,

Ketua PD Pemuda Hidayatullah Depok dan saat staf peneliti di Abdullah Said Cendikia

[adm/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)