Balita Gizi Buruk, Salah Siapa?

Balita Gizi Buruk, Salah Siapa

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Tahun 2014 berita mengenai, Azahra, bayi berusia 1 tahun penderita gizi buruk di Kabupaten Bekasi sempat heboh ketika kepala Desa setempat terpaksa meninggalkan mobil dinasnya di sebuah rumah sakit swasta sebagai jaminan agar bayi Azahra bisa dibawa pulang karena orang tua Azahra tidak mampu membayar biaya perawatan. Namun akhirnya bayi Azahra meninggal dunia tanggal 4 November 2014. Sungguh kasihan sekali Azahra tidak terlihat seperti bayi-bayi lain yang montok dan sehat, dia terlihat  begitu kurus dengan tulang dada yang menonjol dan wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. Bayi Azahra adalah salah satu bayi malang di Indonesia yang menderita gizi buruk.

Selain itu di Blitar, Fandi, usia 3 tahun sulit berbicara, tubuhnya lemah dan tidak bisa berjalan. Kepalanya jauh lebih besar tidak sebanding dengan badannya yang kurus. Tak jauh dari rumah Fandi, Andini, berusia 5 tahun juga mengalami kondisi yang memprihatinkan, tidak bisa berjalan. Kedua balita tersebut sudah menderita gizi buruk cukup lama namun orang tua mereka tidak mempunyai dana untuk memperbaiki gizi mereka.

Sungguh memprihatinkan keadaan bayi-bayi dari keluarga miskin banyak yang menderita gizi buruk. Tahun ini jumlah balita penderita gizi buruk di Indonesia sudah mencapai lebih dari 15%.  Dari tahun ketahun jumlah balita penderita gizi buruk terus meningkat. Siapa yang bertanggung jawab dengan keadaan mereka? Apakah ibu mereka yang harus disalahkan yang dianggap tidak mengkonsumsi  makanan bergizi ketika mengandung ataukah karena tidak bisa mengurus anak-anak mereka dengan baik? Kita jangan menyalahkan mereka! Lihatlah latar belakang ekonomi mereka. Untuk membeli makanan seadanya saja mereka tidak punya uang cukup, apalagi untuk membeli makanan yang bergizi. Selain butuh makanan bergizi, ibu hamil dan balita juga perlu memeriksakan kesehatan mereka secara teratur. Darimana mereka mendapatkan uang ekstra untuk biaya ke klinik?

Bagaimanakah nasib bangsa kita jika banyak balita atau generasi muda yang menderita gizi buruk? Untuk hidup sehat dan sejahtera kita perlu mengkonsumsi makanan bergizi dan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis dari pemerintah. Pemimpin-pemimpin negeri ini harus memperhatikan kesehatan rakyatnya karena kesehatan adalah kebutuhan dasar yang mutlak didapatkan oleh setiap individu. Kesehatan berpengaruh besar terhadap peran, fungsi dan produktifitas manusia.  Dan negara dengan derajat kesehatan rakyatnya yang tinggi menunjukkan negara yang sejahtera. Oleh karena itu syariah Islam mewajibkan negara sebagai pelaksana layanan kesehatan kepada masyarakat. Semua masyarat mendapat layanan kesehatan dengan kualitas yang sama tanpa pandang bulu kaya atau miskin, pejabat atau orang biasa.

Selain itu jika sistem ekonomi Islam dijalankan, Insya Allah tidak akan ada rakyat yang kelaparan. Dalam syariah Islam Jika ada rakyatnya yang tidak mampu, negara harus memberikan bantuan  yang bisa diambil dari baitul maal. Pemimpin mempunyai tanggung jawab penuh untuk mengurus rakyatnya, sebagaimana sabda Rasul SAW :

“Imam (kepala negara) itu pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR  al-Bukhari)

Jadi kalau ada rakyat yang sampai kelaparan atau sakit, negara bertanggung jawab. Pemimpin negara tidak boleh menyia-nyiakan amanah rakyat dengan melepaskan kewajibannya untuk memakmurkan dan menyediakan pelayanan kesehatan untuk rakyat, bukannya malah memaksa rakyat untuk membayar sendiri biaya kesehatan mereka. Pemimpin harus memenuhi semua kebutuhan rakyat, sebagaimana yang diperingatkan Rasul SAW:

“Siapa saja yang mengurusi urusan masyarakat, lalu ia menutup diri dari orang yang lemah dan membutuhkan, niscaya Allah menutup diri dari dirinya pada hari kiamat” (HR Muslim)

Pemimpin yang bertanggung jawab takut dengan azab Allah kalau sampai membiarkan rakyatnya mati kelaparan seperti contohnya balita gizi buruk yang meninggal karena tidak terpenuhinya kebutuhan pangan mereka. Alangkah beruntungnya jika pemimpin-pemimpin kita mencontoh  Khalifah Umar bin Khattab yang selalu mengurusi rakyatnya dengan penuh tanggung jawab.

Ketika itu Khalifah Umar bin Khattab sedang menghadapi cobaan yang cukup berat. Saat itu negerinya sedang dilanda paceklik sehingga bahan makanan sulit didapat. Beliau selalu berkeliling ditemani Aslam untuk memastikan tidak ada warganya yang tidur dalam keadaan lapar. Suatu malam beliau melihat seorang ibu sedang memasak diiringi tangisan anaknya yang kelaparan. Umar bertanya kepada ibu itu, “Apa yang kau masak itu? Kenapa tidak matang juga?” Si ibu menjawab,”Silahkan, kau lihat sendiri.” Ternyata ibu itu memasak batu untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Umar langsung mengambil sekarung gandum yang dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada ibu dan anak-anaknya. Beliau tidak mau digantikan Aslam memikul gandum karena takut harus memikul beban kelak di hari pembalasan.

Insya Allah jika pemimpin-pemimpin kita mencontoh suri tauladan Umar bin Khattab dengan mengurusi rakyatnya dengan penuh tanggung jawab dan menjalankan syariah Islam, tidak akan ada lagi rakyat yang mati kelaparan. Amiiiiiin.

Kiriman dari :

Sutanti S.Pd.

(Aktivis MHTI Kota Depok)

Rate this article!
Tags:
author

Author: