Suara Pembaca : Tema Kegalauan Hukum

Kegalauan Hukum

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Kasus penahanan nenek Asyani yang dituduh mencuri tujuh batang kayu milik Perhutani sampai hari ini masih dalam proses persidangan. Baik Nenek Asyani maupun Perhutani memiliki keterangan yang berbeda. Menurut versi Perhutani, ada lebih dari lima batang kayu yang diambil Asyani. Namun di sisi lain nenek Asyani membantah telah mencuri kayu milik Perhutani karena tujuh batang kayu jati yang diambilnya itu berada di tanah milik sendiri. (surabaya.bisnis.com/18 maret 2015)

Bagi siapa saja yang mengikuti perkembangan kasus ini, sekilas akan merasa prihatin pada nenek Asyani. Dengan segala kelemahannya sebagai rakyat biasa, Asyani harus berjuang menjalani proses hukum di tengah usia renta. Sangat berbeda kondisi penegakkan hukum antara rakyat jelata dengan para pejabat atau penguasa beruang.

Proses brokrasi yang rumit, tingginya biaya perkara, dan aparat penegak hukum yang tidak bersih, semakin membuat rakyat kecil tertindas. Sementara mereka yang memiliki rekening gendut dapat duduk tenang menunggu putusan pengadilan, bahkan tidak jarang mampu membeli hukum dan kebebasan. Akibatnya hukum tidak memihak si miskin, namun memihak pada para koruptor atau penjahat berdasi. Wajar kemudian muncul pernyataan bahwa hukum saat ini tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Bagaimana tidak? Kasus nenek Asyani terjadi tidak lama setelah kasus illegal logging yang dilakukan Labora Sitorus, anggota Polres Raja Ampat. Labora tidak langsung ditahan sebagaimana Asyani. Dengan kekuatan uang yang dimilikinya, Labora sempat berada diluar lapas tanpa alasan yang jelas, bahkan mendapatkan surat bebas yang dikeluarkan pihak lapas tanpa ada dasar hukum. (sp.beritasatu.com/20 Maret 2015)

Sekilas Penegakkan Hukum dalam Islam

Mari kita lihat sejenak bagaimana penegakkan dan penerapan hukum dalam Islam. Dimasa Daulah Khilafah Islamiyah, Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah, namun Islam juga mengatur negara dengan seperangkat aturan yang lengkap. Khilafah Islamiyah telah menerapkan hukum Islam selama lebih dari 1300 tahun, dan tidak hanya menerapkan Islam dalam sistem hukum dan peradilan saja. Namun penerapan sistem yang lainnya juga terpancar dari akidah Islam; seperti sistem pemerintahan Islam, sistem ekonomi Islam, sistem pendidikan Islam, juga sistem pergaulan sesuai Islam. Satu dengan yang lain saling berkaitan dan saling menopang.

Lembaga peradilan dibawah Khilafah Islamiyah, menyampaikan putusan hukum bersifat mengikat sebagai sebuah ketetapan syara’ yang harus dilaksanakan. Ketetapan ini bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga menghindari intervensi kepentingan manusia atas keputusan hukum. Dan keputusan yang sudah diketok palu oleh lembaga peradilan bersifat konsisten, tidak berubah, sehingga tidak dikenal adanya naik banding dalam hukum Islam. Tidak ada satu insan pun baik dari kalangan rakyat, penguasa, bahkan Khalifah yang kebal akan putusan ini.

Hukum Islam sendiri pada praktiknya mampu memberikan rasa aman bagi seluruh manusia, baik bagi muslim maupun non muslim. Sebab hukum Islam bersifat zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa).  Maksud dari zawajir adalah sanksi hukum yang tegas dan keras di dalam Islam, mampu membuat seseorang berpikir berulang kali sebelum melakukan tindak kejahatan.

Seperti misal, hukuman bagi seseorang yang mencuri lebih dari nisab yang telah ditentukan adalah dengan memotong tangan si pelaku, baik pelakunya laki-laki maupun perempuan. Adapun nisab (batas) seorang pencuri dipotong tangannya adalah bila barang hasil curiannya melebihi seperempat dinar. Satu dinar setara dengan 4,25 gram emas, maka seperempatnya adalah 1,0625 gram emas. Dan bila harga satu gram emas saat ini sebesar Rp 500.000, maka ketetapan pemotongan tangan bagi seorang pencuri adalah bila barang yang diambil melebihi nilai Rp 532.000.

Namun, sebelum ketetapan potong tangan bagi pencuri ini dilaksanakan, maka kasus harus melalui proses persidangan terlebih dahulu. Tidak akan dijatuhkan hukum potong tangan apabila pelakunya tidak berakal (tidak waras) atau tidak tahu bahwa mencuri itu diharamkan, tidak akan dijatuhkan hukum potong tangan apabila barang yang dicuri kurang dari nisabnya (yaitu: seperempat dinar), dan tidak akan dijatuhkan hukum potong tangan pula bagi pelaku yang mencuri karena ia kelaparan sehingga barang curiannya itu menghilangkan rasa laparnya, atau dengan kata lain dapat mencegahnya dari mati kelaparan.

Hal ini sesuai dengan apa yang dipraktikkan oleh khalifah Umar bin Khatthab. Saat itu Khilafah tengah mengalami musim kemarau dan kekeringan yang berkepanjangan, disertai wabah penyakit yang merenggut banyak nyawa. Umar sebagai khalifah tidak memberlakukan hukum potong tangan sampai kemudian Khilafah berhasil melalui musim paceklik ini.

Contoh yang sangat fenomenal berikutnya adalah kisah pencurian baju besi milik Khalifah Ali bin Abi Thalib. Ketika Khalifah Ali ra mendapati baju besi yang biasa dipakainya berperang, ada di rumah warganya seorang yahudi. Khalifah Ali kemudian memperkarakan yahudi tersebut ke pengadilan karena merasa si yahudi mencuri baju besi miliknya, namun yahudi tersebut membantah tuduhan ini.

Di hadapan pengadilan Ali duduk sejajar dengan terdakwa, dan hakim Suraih mendengarkan dengan seksama penjelasan dari masing-masing pihak. Di hadapan hakim yang terkenal adil tersebut, Ali hanya mampu menghadirkan dua orang saksi yaitu anaknya dan pembantunya. Melihat hal ini, hakim Suraih menolak saksi yang dihadirkan Ali karena tidak memenuhi persyaratan sebagai saksi, kemudian beliau menyatakan bahwa baju besi itu adalah milik orang yahudi tadi.

Penerapan hukum Islam ini membuka hati dan pikiran semua orang, menerangi jiwa yang kelam dengan cahaya Islam, termasuk kepada yahudi yang mencuri baju besi. Ia merasa hukum Islam yang diterapkan oleh negara benar-benar adil, tidak memandang status warga negara, apakah seorang pejabat, rakyat jelata, bahkan muslim, maupun non muslim. Seketika itu ia mengaku bahwa dirinyalah yang mencuri baju besi, dan menyatakan diri ingin masuk Islam. Semua orang berdzikir memuji Allah, tak terkecuali Ali yang dalam kasus ini sebagai korban pencurian. Khalifah yang agung nan bijaksana ini pun menghadiahi baju besi miliknya sebagai kado pada yahudi yang mengakui kesalahannya, dan terutama karena keislaman dirinya. Allahu Akbar.

Suara Sumbang

Memang ada saja yang berpendapat dangkal dan miring terhadap penerapan hukum Islam, bagaimana mungkin masalah hukum akan tuntas bila tiap permasalahan diselesaikan dengan jalan qishas, potong tangan, jilid, atau rajam? Bukankah ini tindakan bar-bar? Jawabnya, tentu saja aturan Islam dalam masalah peradilan seperti ini harus dijalankan berbarengan dengan aturan Islam lainnya, dan harus Negara Khilafah Islamiyah yang memberlakukannya.

Sebab, bila sistem hidup yang berlaku adalah Kapitalis Sekuler, namun hukum dan peradilannya menggunakan hukum Islam, ini tidak akan menyelesaikan permasalahan. Malah akan menimbulkan permasalahan baru. Contohnya bisa melihat ke Arab atau ke Aceh. Sesungguhnya penerapan sistem Kapitalis Sekulerlah yang menjadi penyebab terjadinya tindak kejahatan, namun kemudian para pelaku dihukum dengan menggunakan hukum Islam. Tak ayal lagi orang-orang yang memiliki kebencian terhadap Islam kemudian menabuh genderang perang dengan menyatakan pemberlakuan hukum Islam tidak adil dan tidak manusiawi.

Sejatinya sistem Islam ditopang oleh tiga pilar, yaitu 1) Individu yang bertakwa, 2) Masyarakat yang memiliki kultur saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi mungkar), serta 3) Negara yang adil dalam menjalankan syariat Islam. Inilah yang menjadi rahasia langgengnya penerapan hukum Islam.

Cukuplah bukti dari kisah Ghamidiyah yang mengakui perbuatan zina yang dilakukannya, hingga harus datang berulang kali kepada Rasulullah saw. minta dirajam. Hal ini murni didorong oleh tingginya ketakwaan dan kesadaran dalam menjalankan hukum. Kemudian kisah Ali & Baju Besi adalah kisah yang menggambarkan keadilan hukum Islam antara Khalifah dengan rakyat jelata, seorang yahudi pencuri Baju Besi.

Khatimah

Jelas sekali hukum Islam mampu berfungsi sebagai zawajir, yaitu mencegah orang lain melakukan kejahatan, juga membawa keadilan bagi semua orang. Penerapan syariat Islam di dunia bagi pelaku kriminal juga berfungsi sebagai Jawabir (penebus dosa), yang menjadikan si pelaku bebas dari azab akhirat atas kejahatannya. Sangat mungkin, kasus-kasus kejahatan semasa kekhilafahan tidak banyak berkembang ke tingkat yang lebih rumit dan entah di mana ujung dan pangkalnya, karena fungsi zawajir dan jawabir ini.

Sejarah juga mencatat, tak lebih hanya 200 kasus yang terjadi selama kurang lebih 1300 tahun Khilafah Islam berkuasa. Ini artinya, bila terjadi satu kasus kejahatan, maka kejahatan berikutnya baru akan terjadi sekitar 6 sampai 7 tahun lagi. Bandingkan dengan hukum positif buatan manusia, justru sering kita dengar satu kasus sengaja diulur penyelesaiannya hingga bertumpuk dan entah kapan selesainya.

Jelas sudah, hukum Islam adalah hukum yang manusiawi dan membawa keadilan bagi seluruh umat manusia. Dan ini bukanlah romantisme sejarah, bukan pula keindahan yang hanya ada dalam cerita-cerita masa lalu. Hal ini adalah nyata, senyata penerapan dahulu dan nanti saat Khilafah Islamiyah yang berlandaskan manhaj kenabian berdiri dengan izin Allah SWT. InsyaAllah.

Biodata Penulis

Nama  : Fatmah Ramadhani

Status  : Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Rate this article!
author

Author: 

Penulis Konten - Author Di Harian Depok