Asal Usul Nama Pancoran Mas Kota Depok

Asal Usul Nama Pancoran Mas Kota Depok

HarianDepok.com – Berita – Pancoran Mas – Pancoran mas adalah sebuah nama kecamatan yang berada di Kota Depok. Penamaan kecamatan tersebut ternyata ada hubungannya dengan keberadaan setu di Jalan Aulia Pancoran Mas, RT 05/07 dan RT 05/18, Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Setu tersebut sering memancarkan sinar keemasan ketika matahari menyinari air yang berada di pancuran setu tersebut. Menurut Suganda selaku Ketua RW 02, kelurahan Mampang, kecamatan Pancoran Mas, menceritakan, sekitar tahun 1829, kawasan tersebut dahulunya sering dijadikan sebagai tempat pertapaan oleh orang-orang sakti zaman dulu.

Mungkin saja, karena tempatnya banyak ditumbuhi pepohonan, burung, dan hewan-hewan lainnya sehingga menimbulkan suasana yang nyaman dan tentram membuat orang zaman dulu menjadikan tempat tersebut sebagai tempat pertapaan. “Di setu itu, memiliki sumber mata air atau biasa disebut Pancuran. Pancuran atau sering disebut juga Pancoran. Air dari pancuran itu mengalir ke setu. Di sana memang suasananya sangat bagus. Apalagi jka di sore hari, dapat melihat banyak bunga-bunga cantik di sana.

Dulunya setu itu juga dianggap keramat dan sering dikunjungi oleh para peziarah dulunya.” Terangnya ketika berbincang dengan sindonews.com di kediamannya , RT 02/02, kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Selasa (17/03/2015).

Ia menambahkan, menurut cerita yang diterimanya secara turun temurun, kedua setu itulah yang konon menjadi penyebab munculnya nama Pancoran Mas. Karena setiap ada orang yang melakukan pertapaan di setu itu, air pancuran di setu itu sering memancarkan sinar keemasan. Sampai masyarakat pun mulai mengenal setu itu dengan sebutan Pancoran Mas. Ganda melanjutkan, memasuki zaman kolonialisme Belanda, setu itupun dijadikan sebagai tempat perkebunan dan dibuat dengan marmer-marmer di bagian setunya untuk melindungi benda yang masuk ke dalam cagar budaya tersebut.

“Saat ini setu tersebut diambil alih oleh pemda setempat dan kerap mengalami pemugaran karena dianggap sebagai salah satu benda cagar budaya yang patut untuk dilestarikan. Saat ini warga yang berada di sekitar setu pun kebanyakan pendatang. Pribuminya sedikit, jadi cuma sedikit orang yang tahu soal cerita tersebut,” jelasnya.

[ TaufikHidayat/HD ]

Tags:
author

Author: 

Writer and Author In HarianDepok