Idris Sardi Gelisah Tentara Tak Becus Mainkan Indonesia Raya

HarianDepok.com – Selebriti – Kegelisahan seorang Idris Sardi muncul setiap kali menyaksikan dan mendengarkan iringan musik yang dimainkan para TNI (saat itu masih ABRI) di upacara-upacara militer. Waktu itu di matanya, permainan mereka jauh dari ideal (baca: tak becus) untuk ukuran angkatan perang. Dalam hatinya malu, marah dan protes melihat keadaan musik di tubuh tentara.

Saya protes. Saya bangga dengan ABRI (sekarang TNI) nggak ada cacatnya. Tapi saya malu. Kenapa? Karena setiap kali main musik terutama ketika memainkan lagu Indonesia Raya hasilnya jelek sekali. Padahal lagu Indonesia Raya begitu sakral. Sheila On Seven (SO7) saja tak bisa memainkan secara sembarangan

Buku Idris Sardi, Perjalanan Maestro Biola Indonesia karya Fadli Zon, mengisahkan seorang Idris Sardi yang melayangkan protesnya kepada Kepala Staf Angkatan Darat yang saat itu dijabat oleh Jenderal Wismoyo Arismunandar.

“Saya protes. Saya bangga dengan ABRI (sekarang TNI) nggak ada cacatnya. Tapi saya malu. Kenapa? Karena setiap kali main musik terutama ketika memainkan lagu Indonesia Raya hasilnya jelek sekali. Padahal lagu Indonesia Raya begitu sakral. Sheila On Seven (SO7) saja tak bisa memainkan secara sembarangan,” kataIdris Sardi seperti dikutip dari buku tersebut.

Idris tidak peduli kalau yang dihadapinya adalah tentara zaman Orde Baru, institusi yang memang paling berkuasa. Dia bertubi-tubi melayangkan protes itu kepada para petinggi TNI. Bahkan sudah sekian kali disampaikan kepada teman dekatnya yang saat itu menjabat Panglima Kodam Jaya, Majend AM Hendropriyono.

“Masa bodoh, saya ini seniman,” katanya.

Lagu kebangsaan bagi Idris Sardi harus dinyanyikan sempurna. Suara dan musik tidak boleh sumbang. Karena setiap menyanyikanIndonesia Raya Presiden pun harus berdiri memberi penghormatan.

Hingga akhirnya kegelisahan dan protes itu mendapat tanggapan dari Asisten Personalia (Aspers) KSAD. Dia ditantang, ” Sekarang kalau sudah protes begitu, apa yang bisa anda bikin?”

Idris menyambut tantangan itu dengan totalitas yang dimilikinya. Dia yakin bisa berbuat banyak untuk urusan yang satu ini.  Namun dia justru balik menantang, “Lho saya bisa bikin apa saja, tapi tentaranya mau nggak?” kata Idris.

Idris akhirnya diangkat sebagai pelatih dan supervisi musik di lingkungan tentara antara tahun 1994-1996. Dia juga diminta membenahi kesatuan musik tentara. Idris pun langsung menerima tantangan, meski tanpa bayaran. Dia menganggap sebagai sebuah panggilan tugas.

[ADM/HD]

(Sumber :Kapanlagi.com)

Tags:
author

Author: 

Publisher & Content Writer