Raup Untung Milyaran dari Bisnis Jangkrik

Raup Untung Milyaran dari Bisnis Jangkrik

HarianDepok.com – Bisnis, Mayoritas mahasiswa yang baru lulus kuliah mencari kerja dengan melamar pekerjaan di perusahaan yang bonafid. Namun tidak demikian Bambang Setiawan, Sarjana Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut memilih berbisnis ternak jangkrik.

Bisnis yang digeluti Bambang memang tidak banyak diminati, namun siapa sangka dari bisnis jangkrik ini Bambang berhasil meraup keuntungan sekitar Rp4 miliar per tahun.

“Ketika saya kuliah memang saya sudah aktif berbisnis, tetapi berbeda dengan banyak orang yang bercita-cita pergi ke kota. Kalau saya malah bercita-cita kembali ke desa,” kata Bambang di Jakarta, Kamis (12/3/2015)

Bambang terjun di bisnis jangkrik pada 2010. Dengan bermodalkan uang Rp7 juta, Bambang membeli 50 kotak jangkrik dan 2,5 kilogram (kg) telur jangkrik.

Meskipun pada awal usahanya ia dipandang sebelah mata dan banyak mendapat cibiran dari orang-orang sekitarnya, Bambang terus berupaya agar bisnis jangkriknya tetap berjalan. Dengan keyakinan bahwa banyak yang membutuhkan jangkrik sebagai pakan ternak atau hewan peliharaan, Bambang terus telaten menekuni bisnis jangkrik.

“Dari 1 kg telur jangkrik, mampu menjadi 70 kg jangkrik. Pangsa pasar saya lebih kepada pakan burung hias, pakan ikan dan untuk memancing pengganti cacing,” ujarnya.

Berjalannya waktu, kemampuan bisnis Bambang pun terasah. Penjualan jangkrik hasil ternaknya meluas. Bahkan didistribusikan di Jawa Barat, Jabodetabek, Jawa Tengah, bahkan hingga Jawa Timur. Namun, ia mengakui pendistribusian terbesar berada di wilayah Bandung.

Jangkrik hidup hasil ternaknya di jual Rp 45.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Selain itu, Bambang juga menjual telur jangkrik dengan harga Rp400.000 sampai Rp450.000 per kilogram.

“Dari modal awal Rp7 juta, omzet per tahun saya mendapat Rp4 miliar. Sebanyak 80 persen dari jual jangkrik, sisanya dari telur,” ujarnya.

Kini, dalam satu hari, ternak jangkrik miliknya bisa memproduksi 200 kg jangkrik dan 8 kg telur jangkrik.

“Kita hanya membuka wilayah ternak di Cirebon saja, karena saya terinspirasi dengan one village one produk,” imbuh Bambang yang merupakan pria kelahiran Cirebon ini.

Selain jangkrik hidup dan telur jangkrik yang ia tawarkan, saat ini juga Bambang tengah mengembangkan produk turunan dari jangkrik. Dia sedang mengembangkan kerupuk jangkrik.

“Sekarang produknya baru sebatas produk alpa (belum dipasarkan secara luas),” tutup Bambang.

[NurMungil/HD}

Tags:
author

Author: