Harga Rumah Di Tiongkok Terpuruk Akibat Pasokan Yang Berlebih

Harga Rumah Di Tiongkok Terpuruk Akibat Pasokan Yang Berlebih

HarianDepok.com- Properti- Dalam dua bulan pertama tahun 2015 ini penjualan properti di Tiongkok menempati level terendah sejak tiga tahun terakhir ini. Penurunan tersebut dibarengi dengan banjirnya pasokan rumah serta redupya pertumbuhan investasi properti.

Perolehan pendapatn penjualan oleh para pengembang anjlok 15,8 persen dalam kurun waktu 2 bulan terakir ini jika dibandingkan dengan Januari hingga Februari tahun 2014 kemarin. Penurunan terparah terjadi pada tahun 2012, yakni sebesar 20,9 persen.

Pada sektor properti sendiri menyumbang kurang lebih 15 persen dari Produk Domestik Bruto Tiongkok. Dengan adanya penjualan properti yang lemah, maka target pertumbuhanya pun sebesar 7 persen sulit untuk tercapai.

“pertumbuhan PDB hingga 7 persen, maka kegiatan investasi pun juga akan turun. Pada tahun ini saja akan lebih sulit jika dibandingkan dengan tahun 2014 kemarin,” ungkap Zhan Xin selaku Chief Executive Officer Soho Tiongkok, Jumat (13/ 3/ 2015).

Sementara itu, sesuai dengan data Biro Statistik Nasional, pertumbuhan investasi properti sendiri anjlok hingga 10,4 persen pada kurun waktu Januari hingga Februari dari 10,5 persen selama 1 tahun penuh pada tahun 2014.

Menginjak bulan Februari, harga rumah pun terpuruk akan tetapi laju penurunanya melamabat, seperti halnya sebuah tanda pasar mungkin akan bergerak naik. Dua penilitian swasta memperlihatkan, pemerintah Beijing tengah menerbitkan paket stimulus guna mendukung perekonomian yang kini sedang goyah.

Para pengembang yang memiliki basis di Shanghai CIFI Holding berpandangan positif pada semester kedua tahun 2015 akan lebih baik. bahkan CIFI Holding memiliki rencana untuk menaikan harga jual propertinya hingga 10-15 persen.

Kendati demikian, penurunan harga tetap merupakan ancaman resiko utama bagi negeri panda tersebut. Pelemahan ini diharapkan oleh banyak pihak hanya akan bertahan tidak sampai semester pertama pada tahun ini. Oleh karena itu, Tiongkok sendiri mulai membatasi permintaan pada 40 sektor ekonomi yang terkait mulai dari semen, baja, hingga furnitur. Para pengembang sendiri juga terlihat mulai memperlambat laju ekspansi, mengingat prospeknya suram.

[MuhammadKhotib/HD]

Tags: