OJK : Anjloknya Rupiah Belum Mempengaruhi Sektor Keuangan

Anjloknya Rupiah Belum Mempengaruhi Sektor Keuangan

HarianDepok.com- Bisnis – OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menganggap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyentuh level Rp 13.000/ dolar tidak mengganggu sektor keuangan di negeri ini.

Muliaman D. Hadad selaku Ketua Dewan Komisioner OJK menyatakan, baik itu situasinya likuiditas, kredit, serta pasar finansial masih mentorehkan kinerja yang positif. Pada perbankan misalnya, likuiditas masih terbilang cukup untuk membiayai potensi penarikan dana oleh pihak ketiga (DPK), kendati Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuanya menjadi 7,5 persen di bulan Februari kemarin.

“Kami sudah melakuakan streest test untuk menguji sektor keungan ini terhadap faktor global dan domestik. Hasilnya memperlihatkan, melemahnya krus dan penurunan pertumbuhan ekonomi dalam batas yang wajar dan masih bisa ditolelir,” Ungkap Kementrian Keungan, Selasa (10/ 2/ 2015).

Ia juga sangat optimis target pertumbuhan dari DPK sebesar 14,2 persen serta penyaluran kreditnya mencapai 16 persen di tahun 2015 ini dapat tercapai. Begitu halnya dengan risiko kredit, Hal tersebut terlihat melalui resiko kredit bermasalah kotor dan bersih yang masing- masing 2,23 persen dan 1,15 persen di akhir bulan Januari kemarin.

Lebih lanjut muliaman menambahkan, rasio pinjaman kepada deposito turun kini menjadi 89 persen. Turunya rasio tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan potensi dari penyaluran kredit yang ada. sementara itu, permodalan perbankan juga terlihat positif. Hal ini dapat dilihat dari rasio kecukupan modal yang diatas 19 persen, bahkan mencapai 21,01 persen di akhir bulan Januari, modal intinya pun mencapai 18,75 persen.

Selain itu efisiensi dan Rentabilitas juga terbilang stabil. Dari pendapatan bunga bersih juga tercatat baik hingga menyentuh level 4,42 persen sejak bulan Oktober kemarin. Serta rasio biaya oprasional terhadap Pendapatan berada pada posisi 52,18 persen.

Pada sektor asuransi dan dana pensiunan, resiko pasar pun kian menurun. Demikian halnya dengan perusahaan pembiayaan yang mayoritas sudah melakukan lindung nialai terlebih yang memiliki utang luar negeri, sehingga dapat mengurangi resiko rugi kurs.

[NurMungil/HD]

Tags:
author

Author: