Kemampuan Membayar Utang Indonesia Masih Baik, Karena Cadangan Devisa Yang Cukup

Kemampuan Membayar Utang Indonesia Masih Baik, Karena Cadangan Devisa Yang Cukup

HarianDepok.com – Bisnis , Bank Indonesia (BI) menilai saat ini kemampuan membayar hutang Indonesia masih terbilang baik. ini dapat dilihat melalui cadangan devisa (cadev) yang masih cukup untuk membayar hutang serta impor hingga 6 bulan.

Agus Martowardojo selaku Gubernur Bank Indonesia mengakui rasio pembayaran utang terhadap pendataan (DSR) Indonesia meningkat hingga mencapai level 50 persen. Padahal seperti yang kita ketahui batas aman DSR untuk negara berkembang adalah di lvel angka 30 persen. Meski demikian ia menyakini cadangan devisa yang ada pada saat ini masih mampu untuk membiayai utang tersebut hingga 6 bulan kedepan.

“Kami melihat, DSR ada sedikit peningkatan. Akan tetapi secara umum, devisa yang dimiliki dapat untuk menutupi lebih dari enam bulan kewajiban impor atau pembayaran utang yang jatuh tempo,” Tutur Agus, Kamis (5/ 3/ 2015).

Berdasarkan data yang dirilis oleh Bank Indonesia, letak cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2015 terhitung sebesar US$ 114,2 miliar, angka ini meningkat dari posisi akhir Desember 2014 yang hanya mencapai US$ 111,9 miliar. peningkatan cadangan devisa itu berasal dari penerbitan obligasi global dari pemerintah, simpanan deposito valuta asing dari bank- bank yang ada di Indonesia, perolehan hasil ekspor migas, serta penerimaan dalam valas lainya.

Cadangan devisa tersebut dapat membiayai 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan pembayaran utang luar negeri dari pemerintah. Posisi ini berada pada standart lebih dari cukup internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai level cadangan dari devisa tersebut mampu mendukung ketahanan dari sektor eksternal dan mampu menjaga dari keseimbangan dari pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depanya.

Fauzi Ichsan selaku Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan para investor memang tengah memantau kemampuan pembiayaan dri Indonesia. Akan  tetapi, yang paling banyak disorot adalah oleh para investor adalah pembiayaan defisit tarnsaksi berjalan atau ‘current account defisit (CAD)’. Ada kekhawatiran apabila defisit transaksi berjalan lebih besar pada trend pelemahan rupiah yang saat ini terjadi.

[NurMungil/HD]

Tags:
author

Author: