Lukman Sardi Dukung Penghapusan Lembaga Sensor Film

Lukman Sardi Dukung Penghapusan Lembaga Sensor Film

HarianDepok.com – Berita – Nasional, Wacana penghapusan Lembaga Sensor Film yang muncuat beberapa waktu ini membuat aktor sekaligus sutradara film, Lukman Sardi ikut angkat bicara. Secara gamblang ia mendukung penghapusan Lembaga Sensor Film (LSF).

Lukman menilai tak masalah jika kontrol konten perfilman Indonesia hanya ditangani lembaga klasifikasi usia atau rating.

“Bagus kalau dihapus. Dari dulu kita sudah usulkan tapi kenapa tidak jadi pertimbangan. Di negara-negara lain, sifatnya sudah mengarah ke lembaga klasifikasi atau rating,” ujar sutradara Film Di Balik 98 saat ditemui media, Kamis (25/2/2015).

Dia menambahkan, kontrol tentang perfilman tidak hanya merupakan tanggung jawab lembaga rating. Tetapi semua pihak terkait, mulai dari pembuat film, bioskop, termasuk masyarakat sendiri.

“Pembuat film harus bertanggung jawab atas filmnya, bioskop harus memperketat, termasuk orangtua yang harus tetap mengawasi tontonan anak,”imbuhnya.

Meskipun demikian, menurutnya penghapusan LSF juga tetap harus disesuaikan dengan perundang-undangan. Misalnya, perlu dibuat aturan yang jelas dan tegas bagi bioskop, masyarakat dan tentunya para pembuat film.

“Lebih bagus tentunya disesuaikan Undang-undangnya. Jangan main asal ganti tanpa penyesuaian. Misalnya dibuat UU terkait bioskop yang melanggar akan diberi sanksi,” terangnya.

Sementara itu, sutradara Film Indonesia Joko Anwar juga turut mengomentari wacana penghapusan Lembaga Sensor Film (LSF). Menurut sutradara sekaligus produser itu, penghapusan LSF tidak berkorelasi dengan kemerosotan moral.

“Dengan dihapusnya LSF, bukan berarti film akan kembali ke zaman jahiliyah. Tidak mungkin akan banyak muncul film porno atau macam-macam karena negara kita punya Undang-Undang antipornografi,” kata Joko.

Menurutnya, yang paling penting adalah masyarakat bisa menonton film sesuai kategori usia. Dengan dihapusnya LSF dan hanya mengandalkan lembaga rating menurut dia tidak akan terjadi masalah.  Hanya saja, lembaga rating dan pihak bioskop harus betul-betul memperketat pengawasan siapa yang akan menonton film tersebut.

“Masyarakat usia dewasa punya hak menonton film sesuai umurnya. Kalau selama ini banyak anak-anak nonton film usia dewasa karena berpikir sudah disensor LSF,” kata Joko menambahkan.

Joko juga menilai peran LSF saat ini tidak begitu berpengaruh dan kurang efektif. Karena LSF tidak punya panduan khusus dan jelas terkait bagian mana yang boleh dan tidaknya konten yang dipotong dari sebuah adegan film.

[MuhammadKhotib/HD]

Tags: