Islam Solusi Kekerasan terhadap Perempuan

Islam Solusi Kekerasan terhadap Perempuan

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menyatakan jumlah kasus kekerasan terhadap wanita di Papua merupakan yang tertinggi di Indonesia. Tingginya konsumsi minuman keras (miras) di provinsi tersebut ditengarai sebagai akar maraknya kasus kekerasan di sana. (MediaIndonesia.com, 28 Januari 2015)

Sejalan dengan pernyataan Menteri PPPA, Wakil Bupati Nabire Mesak Magai mengungkapkan bahwa kekerasan biasanya kerap terjadi usai mabuk-mabukan, laki-laki pulang ke rumah sambil marah-marah. Dia menambahkan, jika istri melakukan kesalahan sedikit, spontan suami yang mabuk langsung memukul atau menendang istri. Perilaku seperti ini, lanjut dia, menyebabkan dampak traumatis pada anak-anak. Pasalnya praktik kekerasan itu dilakukan di depan mata mereka.

Mengutip data Komnas Perempuan pada 2013, rata-rata kasus kekerasan pada perempuan di Papua mencapai 1.360 kasus untuk setiap 10 ribu perempuan. Kebanyakan kekerasan terjadi dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
dengan prosentase 56%, kekerasan seksual (24%), perdagangan perempuan (18%) dan kasus lainnya (2%).

Sementara data terbaru mengenai jumlah kekerasan terhadap kaum perempuan di Indonesia disampaikan Komnas Perempuan Indonesia pada tanggal 24 November 2014. Sepanjang 2013, tercatat 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan, 16.403 kasus ditangani oleh 195 lembaga layanan dan 263.285 kasus bersumber pada data kasus/perkara yang ditangani oleh 359 Pengadilan Agama (data BADILAG). Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 4.336 kasus dari tahun 2012.

Semakin banyaknya perempuan yang menjadi korban kekerasan, membuat klaim demokrasi sebagai sistem yang mengusung prinsip egaliter patut diragukan. Di mana-mana demokrasi gagal memberikan jaminan kesetaraan dan perlindungan kepada kelompok masyarakat lemah, termasuk kaum perempuan dan anak-anak,  Padahal salah satu prinsip yang menjadi jargon demokrasi adalah kesamaan hak, atau egaliter.

Kasus yang muncul di Papua bisa jadi akan muncul pula di wilayah lain di Indonesia. Minuman keras hanyalah satu diantara pemicu kekerasan itu. Masih banyak faktor pemicu lainnya, seperti pornografi, sistem  aturan yang tidak memberikan perlindungan kepada perempuan, dan sistem persanksian yang tidak memberikan efek jera bagi pelaku kekerasan. Lebih dari semua itu adalah cara pandang terhadap perempuan, yang masih menempatkan perempuan sebagai obyek kekrasan, bukan sebagai pihak yang pantas untuk dimuliakan.

Sesungguhnya syariat Islam datang sebagai petunjuk, sebagaimana firman Allah Swt dalam surat Al Fath: 28

Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak, agar Dia memenangkan agama itu atas semua agama-agama lainnya. Dan cukuplah Allah sebagai saksi

Syariat Islam telah memberikan solusi atas permaslahan manusia dalam setiap aspek kehidupan. Ketika aturan Islam diterapkan dalam kehidupan kita, maka keberkahan dan keselamatan akan menyertainya. Tak terkecuali perlindungan dan kesejahteraan bagi perempuan.

Islam melarang umatnya minum minuman keras, sekaligus membatasi peredarannya hanya di kalangan orang-orang non muslim. Dengan demikian dampak buruk minuman keras bisa diminimalisir, bahkan ditiadakan. Demikian juga, Negara berperan aktif dalam memblokir situs-situs pornografi yang muncul dan berkembang di media-media. Terakhir, sistem persanksian akan ditegakkan secara adil dan tegas sesuai aturan-Nya, sehingga akan menimbulkan efek jera bagi pelaku dan yang lainnya.

Artikel Kiriman Dari : Ibu Peni Setyaningsih

Tags:
author

Author: