Bank Indonesia (BI) Di Perkirakan Akan Mempertahankan Suku Bunga Acuannya

 

Bank Indonesia

HarianDepok.com – Bisnis , Bank Indonesia (BI) diperkirkan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya pada level 7,75 persen. Karena masih tingginya resiko pada pasar keungan meruapakan alasan utama bagi BI untuk mempertahankan suku bunganya.

  1. Prasetyantoko selaku pakar ekonomi PT Bank Tabungan Negara menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah masih memiliki resiko melemah terhadap nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS). Selain ada imbas dari naiknya suku bunga bank sentral dari AS. Pelemahan juga diakibatkan oleh pengaruh stimulus bank sentral Eropa yang hanya mengalir pada kawasan tersebut.

Terlebih hingga saat ini BI juga masih memantau berapa tingkat dari defisit neraca transaksi berjalan yang diprediksikan masih bearada pada kisaran level 3 persen. Kendati demikian ia memprediksikan, BI rate akan diturunkan pada kuartal III atau pada kuartal IV di tahun 2015 ini. Terlebih perekonomian global sudah kembali pulih.

Selain itu investasi yang ditanamkan pemerintah pada sektor infrastruktur mulia terlihat berjalan. Prasetyantoko memperkirakan ekonomi akan tumbuh sebesar 5,3 persen hingga 5,5 persen pada akhir tahun 2015 ini. Sementara rupiah akan berada pada kisaran level Rp 12.500/ dolar AS.

“memang dirasa sangat berat untuk mencapai target penyaluran kridit 15 persen hingga 17 persen. Akan tetapi harapanya pada periode tersebut situasimya akan jauh lebih baik. secara fisikal neraca transaksi berjalan serta perekonomian global juga akan pulih”. Ujar Prasetyo, Senin (9/ 2/ 2015)

Hal yang senada juga diutarakan oleh David Samuel seorang pakar ekonomi PT Bank Central Asia Tbk. Ia menjelaskan, BI masih terus memperhatikan suku bunga acuan karena ia ingin menjaga tingkat defisit neraca transaks berjalanya. Terlebih pada semester II, ketika proyek infrastruktur pemerintah mulai beroprasi, oleh karena itu bahan baku pun juga akan mulain meningkat. Menjadi kekhawatiran apabila suku bunga yang turun akan memperbesar defisit transaksi berjalan. Struktur resiko ekonomi Indonesia berbeda jika dibandingkan dengan yang ada di Australia yang baru saja menurunkan suku bunganya.

[NurMungil/HD]

Tags:
author

Author: