Gerakan Anti “Valentine Day” Hari Valentine

Gerakan Anti Valentine Day

HarianDepok.com – Berita – Nasional , Menyambut peringatan hari kasih sayang atau valentine day pada 14 Februari mendatang, remaja muslim ramai menyerukan gerakan kampanye nasional “I am muslim No #ValentinesDay” di media sosial. Kepedulian para remaja muslim ini dalam rangka menolak  perayaan hari Valentine yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam dan budaya Bangsa Indonesia.

Dika, salah seorang yang ikut mengkampanyekan melalui media sosial ini mengatakan bahwa hari valentine merupakan budaya barat dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia.

“Islam gak ngerayain Valentine, dan itu bukan budaya kita. Valentines day itu budaya barat. Jangan sampai budaya itu mempengaruhi akidah kita,” ujar Dika.

Selain Dika, remaja lain yang ikut memposting “I am muslim No #ValentinesDay” di media sosial adalah Tommy, ia berpendapat bahwa sudah seharusnya pemuda muslim tak lagi terjebak pada ajakan Barat yang menodai makna cinta.

“Cinta bukan seks bebas dan ngegombal. Loe jangan mau dikasih cokelat terus diajak ML (Making Love). I am Muslim No #ValentinesDay,” tulisnya dalam akun media sosial.

Sementara itu, Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Musni Umar, ikut menanggapi soal peringatan hari kasih sayang atau hari valentine yang kini menjadi salah satu perayaan budaya di Indonesia. Ia melihat tanggal 14 Februari itu tidak lebih dari bentuk kebebasan berbudaya yang diadopsi dari budaya barat, padahal masyarakat kita tidak tahu dampak dari budaya tersebut menjadi salah satu penyebab rusaknya moral bangsa.

Musni sangat prihatin dengan kebebasan berbudaya yang terjadi di Indonesia. Kalangan remajanya berada di dalam situasi yang serba bebas, tanpa aturan main, dan  tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Dan jika dilarang, mereka menganggap bahwa itu adalah hak asasi manusia.

“Pertanyaannya, apakah budaya valentine sesuai dengan budaya kita?” kata Musni

Ia menambahkan, masyarakat harus melihat dan menilai apakah perayaan valentine sesuai dengan masyarakat Indonesia yang berketuhanan yang maha esa atau tidak. Jika tidak, maka masyarakat harus bersama-sama saling mengingatkan atau minimal membatasi untuk tidak ikut serta dalam memperingati hari valentine tersebut.

“Tak hanya budaya, kita ini bebas dalam bidang politik, bebas dalam bidang ekonomi, dan itu tidak ada aturan main,” ujarnya.

Ini yang dikhawatirkan, kebebasan tersebut tidak diberikan batasan-batasan yang sesuai dengan norma agama dan adat budaya Indonesia sehingga semua hal yang dianggap baik oleh remaja Indonesia akan dijadikan budaya meskipun pada hakikatnya itu bertentangan dengan norma-norma yang ada di Indonesia.

[MuhammadKhotib/HD]

Tags: