Marak Begal Motor Di Depok, Ketika Hukum Dan Sistem Masyarakat Tidak Bersinergi

Begal Motor Di Depok, Begal Motor, Pencuri Motor,

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Awal tahun 2015 ini masyarakat Depok khususnya diresahkan dengan rangkaian aksi perampasan motor dengan kekerasan, bahkan hingga penghilangan nyawa korban. Diawali pada tanggal 9 Januari 2015, motor Suzuki Satria milik Bambang Syarif Hidayatullah dirampas di jalan Juanda, korban tewas dalam peristiwa tersebut. Disusul dengan kejadian serupa yang di kawasan fly over UI, depan kampus BSI Margonda Raya pada tanggal 25 Januari 2015. Terakhir peristiwa perampasan terjadi lagi pada tanggal 31 Januari 2015, yang menimpa seorang wanita pedagang sayur di daerah Krukut, dengan korban diceburkan ke dalam kali Krukut.

Tiga rangkaian peristiwa serupa yang terjadi selama bulan Januari, dengan dua korban tewas, tentu meresahkan masyarakat. Walaupun pihak kepolisian berhasil menangkap gerombolan perampas sepeda motor, yang disinyalir merupakan pelaku dua peristiwa pertama, namun rasa aman belum berhasil dirasakan oleh masyarakat Depok. Terbukti pada akhir pekan kemarin, penulis amati jalan Margonda dan Juanda sudah cukup sepi di pukul 23.00. Padahal sebelumnya hingga tengah malampun, kedua jalan utama tersebut masih sangat ramai.

Kondisi Depok kini yang dirasa tidak aman lagi tentu tidak boleh dibiarkan terus berlanjut. Perbaikan sistem keamanan dengan aturan yang jelas dan tegas, sistem masyarakat yang kondusif, , serta sistem sanksi yang memberi efek jera perlu disinergikan satu sama lain. Satu sistem yang telah menyediakan sinergi ketiga hal tersebut adalah sistem Islam, yang apabila berhasil dijalankan sebagai satu kesatuan akan efektif mengatasi masalah kejahatan di masyarakat. Pertama, Islam akan mewajibkan negara untuk tanpa henti membina keimanan dan ketakwaan rakyat. Keimanan dan ketakwaan itu akan menjadi faktor pencegah yang efektif dalam diri seseorang yang bisa mencegah dia dari melakukan kejahatan apapun bentuknya.

Kedua, sistem ekonomi Islam akan bisa mendistribusikan kekayaan negeri secara merata dan berkeadilan kepada seluruh rakyat. Jika ada yang luput oleh mekanisme ekonomis, maka Islam mewajibkan pemenuhan kebutuhan pokok dijamin melalui mekanisme non ekonomis. Islam mewajibkan negara mewujudkan hal itu. Dengan begitu, alasan ekonomi tidak lagi menjadi faktor untuk seseorang melakukan kejahatan.

Ketiga, jika dengan semua itu masih ada orang yang melakukan tindak kriminal, maka sistem sanksi Islam akan menjadi palang pintu terakhir yang efektif. Sanksi hukum Islam yang efektif memberikan efek jera yang bisa mencegah terjadinya kejahatan. Sanksi-sanksi yang diberlakukan dalam Islam dapat dilaksanakan bila memenuhi syarat tertentu. Dalam kasus pencurian, sebenarnya tidak serta merta semua kasus pencurian akan dikenakan hukum potong tangan. Jumlah harta yang dicuri dan alasan/latar belakang melakukan pencurian menjadi pertimbangan utama dalam menjatuhkan sanksi hukum potong tangan. Dengan demikian, kesan kejam dan tidak berperi kemanusiaannya hukum Islam dapat kita hapuskan, bila mengingat efek jera yang ditimbulkan, serta mekanisme pelaksanaannya yang tidak sederhana kelihatannya.

Islam yang oleh Allah dinyatakan sebagai agama yang sempurna  telah menyediakan ketiga mekanisme tersebut secara lengkap dan sistematis, melalui sumber-sumber hukum bakunya. Ketika ketiga mekanisme di atas dapat dilaksanakan dan bersinergi satu sama lain, maka kehidupan masyarakat yang sejahtera, aman dan sentosa bukanlah impian semata, karena Allah sendiri yang sudah menjanjikan hal tersebut, dan adalah Allah SWT tidak pernah mengingkari janjiNya.

Dan telah sempurna firman Tuhanmu dengan aturan yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firmanNya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui ( QS Al Anam ; 115 )

Tulisan Kiriman Dari : Reno Pratiwi

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)