Neraca Perdagangan Desember 2014 Diperkirakan Surplus US$ 100 Juta Oleh BI

Neraca Perdagangan Desember 2014 Diperkirakan Surplus US$ 100 Juta Oleh BI

Ilustrasi Bank Indonesia

HaianDepok.com – Bisnis , Bank Indonesia (BI) memprediksikan neraca perdagangn pada bulan Desember 2014 mengalami surplus US$ 100 juta. Perkiraan tersebut mengalami penyusutan yang sebelumnya diperkirakan BI  akan mencapai US$ 200 juta.

Dengan prediksi surplus perdagangan tersebut, paling tidak mampu meringankan beban defisit sepanjang tahun 2014. Secara keseluruhan defisit neraca perdanga menembus level US$ 2,07 miliar. apa bila prediksi BI tersebut tepat maka defisit perdagangan selama tahun 2014 adalah US$ 1,97 miliar.

Agus Martowardojo selaku Gubernur Bank Indonesia memaparkan, paling tidak perdagangan di Indonesia masih bisa mengalami surplus di akhir tahun kemarin. Hal ini terjadi karena nilai tukar rupiah terdipresi 0,57 persen pada dolar Amerika Serikat. Angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan mata uang lainya yang menembus level 3 persen.

“Jika inflasi pada negara- negara lain lebih tinggi, akan bepengaruh terhadap kompetitif ekspor Indonesia. Kami akan memantau lagi fundamental ekonomi, terlebih untuk ekspor impor serta transaksi berjalan”, Ungkap Agus di Jakarta, Jumat (30/ 1/ 2015).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa masih akan ada upaya untuk menjaga defisit neraca transaksi  yang sedang berjalan tidak terlalu besar. di tahun 2015 ini diperkirakan transaksi berjalan berada pada 3,3 persen hingga 3,5 persen. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya diperkirakan 3 persen hingga 3,2 persen.  Kendati prediksinya sedemikian rupa, BI akan tetap megupayakan defisitnya untuk berada pada kisaran 2,5 persen hingga 3 persen.

BI sendiri memproyeksikan, pada kuartal 1 tahun 2015 neraca transaksi  berjalan akan menembus kisaran 2 persen. Ini yang akan membuat rupiah menguat terhadap dolar jika dibandingkan dengan mata uang lainya. Selian itu BI juga akan mengupayakan volatilitas pergerakan rupiah akan tetap stabil tanpa adanya target rupiah pada level tertentu. inilah mengapa BI hingga kini enggan menaikan suku bunga acuanya.

Disamping itu, BI sendiri masih tetap optimis terhadap perekonomian Indonesia. Terlebih adanya kebijakan menurunkan subsidi bahan bakar minyak (BBM) serta turunya harga minyak membuat angka inflasi menurun.

[NurMungil/HD]

Tags:
author

Author: