Jakarta Jadi Kota Paling Tidak Aman Sedunia

Jakarta jadi kota paling tidak aman sedunia

HarianDepok.com – Berita – Nasional, Hasil survei Economist Intelligence Unit (EIU) menyatakan DKI Jakarta sebagai kota paling tidak aman sedunia yang berkaitan pula dengan tingkat urbanisasi terburuk yang pernah ada.

Posisi Jakarta sebagai kota yang tidak aman berdasarkan survei EIU mengenai kualitas keamanan 50 kota (the Safe City Index). Skor Jakarta adalah 53,71 poin sebagai kota yang tidak aman sedunia. Hal itu berbanding terbalik dengan ibukota Jepang, Tokyo yang memiliki skor 85,63 sebagai kota teraman di dunia.

Hal ini dijelaskan pula oleh pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati pada kamis (29/1/2015), bahwa efek urbanisasi selain memberikan ledakan kepadatan penduduk juga akan meningkatkan tingkat kriminalitas.

“Semua orang ke kota dan ketika ekpektasi mereka tidak sesuai maka mereka pun mencari caranya sendiri sehingga muncullah kriminalitas. Sehingga permasalahannya bukan pada kriminalitasnya tetapi efek dari urbanisasinya,” kata pengamat sosial budaya dari Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati, Kamis (29/1).

Ia juga menilai, ketika Jakarta menjadi kota tujuan mencari nafkah maka konsekuensinya adalah arus urbanisasi meningkat dan bersamaan dengan hal itu, tingkat kriminalitas juga akan meningkat karena masyarakat yang tidak memiliki keahlian, namun terlanjur berada di Jakarta mencari alternatif guna memenuhi kebutuhan hidupnya dan melakukan tindak kriminalitas adalah tindakan yang paling umum dilakukan.

“Sudah banyak yang mengeluh tidak nyaman dan aman dengan Jakarta, tapi faktanya kita ‘terperangkap’ bersama-sama. Karena kita tahu persis wilayah di luar Jakarta sulit untuk mencari uang. Dan yang bisa dilakukan masyarakat mencoba memaklumi dan akhirnya menjadi terbiasa,” terang Devie yang merupakan dosen Vokasi UI.

Berbagai permasalahan yang ada di Jakarta juga memberikan dampak pada psikologi warganya yang cenderung menjadi lebih egois. Mereka, imbuh Devie, berupaya mendahulukan haknya dibandingkan kewajiban mereka dan hal ini sudah terlihat sehari-hari di Jakarta.

“Kondisi inilah yang membuat masyarakat menjadi lebih emosional. Mereka tahu itu tidak nyaman, tapi semua itu dicoba untuk dimaklumi,” katanya.

Menurutnya, kenyamanan sebuah kota tidak hanya diukur dari fasilitas yang tersedia tetapi juga faktor nonmateri seperti halnya keramahan dan sisi psikologis warga yang tinggal.

“Faktor nonmateri juga menjadi pertimbangan mengapa sebuah kota disebut nyaman,” ujarnya.

Selama ini, sebagian besar warga Jakarta hanya berupaya mengejar materi, dan kurang memiliki waktu cukup dengan keluarga. Faktor psikologis inilah yang membuat tidak warga menjadi pribadi-pribadi yang ambisius untuk mengejar keinginan pribadinya semata, sementara jika orang tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk mendapatkan keinginannya, maka tindakan kriminal pasti menjadi opsi yang biasanya dilakukan.

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)