Para Pengembang Tolak Kebijakan Pajak Barang Mewah Properti Seharga Rp 2 Miliar

Para Pengembang Tolak Kebijakan Pajak Barang Mewah Properti Seharga Rp 2 Miliar

HarianDepok.com – Properti , Rencana pemerintah untuk merevisi Peraturan terkait Menteri Keungan (PMK) ditolak oleh para pengembang. Pasalnya kebijakan tersebut membebankan pajak barang mewah terhadap rumah, kondominium, apartemen, dengan tanah yang memiliki harga lebih dari Rp 2 miliar.

Eddy Hussy selaku Ketua DPP Real Estate Indonesia (REI) memaparkan bahwa revisi kebijakan tersebut perlu untuk ditinjau kembali dan tidak dapat diterapkan dalam waktu yang dekat ini karena hal tersebut akan berdampak negatif.

Karena pada peraturan sebelumnya properti yang hanya melebihi Rp 10 miliar yang dapat dikenakan pajak barang mewah, yakni 5 persen dari harga jual yang ada. lebih lanjut ia memaparkan, “saya sangat berharap jangan sampai kebijakan tersebut diberlakukan dalam kondisi saat ini. Karena dampak negatif kedepanya sangat besar”. ungkap Eddy, Jakarta Selatan Selasa (27/1/2015).

Akibat dari dampak yang diakibatkan adalah karena pada sektor properti termasuk kedalam penggerrak ekonomi Indonesia. Dengan adanya kebijakan tersebut baik itu pengembang dan konsumen akan terkena beban pajak yang lebih selain beban yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM). Inilah yang dianggap oleh Eddy akan menghambat pembangunan properti.

Sama halnya dengan Eddy, Teguh Satria selaku Ketua Kehormatan DPP Real Estate mengungkapkan, dengan diberkalukanya revisi tersebut, secara tidak langusung penjualan apartemen dengan harga Rp 2 miliar yang masuk kedalam kelas menengah akan dikenai wajib pajak barang sangat mewah.

Dilain pihak menurutnya pemerintah tengah menurutnya kini tengah mengupayakan orang- orang perkotaan untuk tinggal di tempat tinggal vertikal dan untuk rumah tapak saat ini harganya sudah sangat tinggi. Di kawasan Bekasi ujar Teguh rumah dibanderol dengan harga Rp 2 miliar belum masuk kedalam kategori rumah mewah.

Oleh karena itu ia pun juga sangat berharap kepada pemerintah untuk mau meninjau ulang perihal kebijakanya tersebut sebelum benar- benar diterapkan. “ hal tersebut perlu untuk didiskusikan lebih lanjut, apakah kebijakan tersebut sejalan dengan cita- cita pemerintah atau justru malah bertolak belakang” ujar Teguh.

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)