Gayatri, si “Doktor Bahasa” yang Malang

Gayatri, si “Doktor Bahasa” yang Malang

HarianDepok.com – Berita – Nasional , Gayatri Walissa (17) remaja putri asal Ambon yang terkenal didunia karena kepandaiannya menguasai belasan bahasa asing kini tinggal kenangan. Pada kamis, 23 oktober 2014 sekitar pukul 19.15 kemarin dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit abdi waluyo kawasan menteng, Jakarta pusat. Dirumah sakit ini Gayatri sempat menjalani perawatan intensif selama empat hari terakhir. Banyak warga yang merasa kehilangan gadis ini. Hal ini beralasan karena mungkin gadis ini adalah sebagian kecil dari remaja Indonesia yang memiliki prestasi luar biasa terkait penguasaan belasan jenis bahasa asing yang dimilikinya.

Gayatri terpilih untuk mewakili Indonesia untuk mengikuti pertemuan anak di Thailand dalam acara CRC atau konvensi hak-hak anak setingkat ASEAN karena kemampuannya dalam penguasaan belasan bahasa asing dan rentetan panjang prestasi di usianya yang masih belia. Gayatri patut diapresiasi karena kemampuan luar biasanya tersebut diperoleh dengan cara otodidak. Acara tersebut merupakan acara pertama seorang anak Maluku mengemban tugas yang penting dari Negara untuk acara setingkat ASEAN. Gayatri menjadi delegasi tunggal dalam acara tersebut. Sebuah kebanggaan tersembul ketika Gayatri mendapatkan tempat terhormat dan mendapatkan panggilan “doctor” karena kemampuannya yang luar biasa dalam menguasai bahasa tersebut.

Dalam forum anak-anak yang diadakan di Thailand tersebut, Gayatri mengaku ditunjuk sebagai penerjemah dari para anak yang menyampaikan pendapatnya. Dia, pada waktu itu, mengatakan bahwa dari sekian peserta, yang menguasai 11 bahasa hanya dirinya. Oleh karena itu dirinya ditunjuk untuk menjadi penerjemah ketika seorang atau siapa saja hendak menyampaikan pendapatnya. Setelah itu, Gayatri mengaku diberi gelar “doctor” karena kemampuannya tersebut.

Akan tetapi, Gayatri memiliki kisah malang yang terjadi tanah kelahirannya sendiri, Maluku. Secara nasional, mungkin orang mengetahui Gayatri sebagai duta ASEAN untuk anak. Akan tetapi, seluruh usaha yang dia lakukan di Maluku sama sekali tidak dihargai. Dia sering bingung kenapa usahanya yang seperti itu sama sekali tidak berarti. Kekecewaan Gayatri semakin terasa ketika dia pulang dari Thailand ke Maluku, di bandara Pattimura kala itu, dia hanya dijemput oleh kedua orangtuanya, tidak ada warga yang ikut menjemputnya sebagai apresiasi atas usahanya mengharumkan nama Maluku di kancah internasional.

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)