Pusaran kasus bioremediasi Chevron VS MA

Pusaran kasus bioremediasi Chevron VS MA

HarianDepok.com – Berita – Nasional , Perusahan minyak asal Amerika serikat bernama PT. Chevron Pacific Indonesia menjadi perlahan pengolah minyak yang berinvestasi di Indonesia sudah sejak lama. Chevron baru baru ini merasa kecewa kepeda MA terkait kasus yang menimpa salah satu karyawan Chevron bernama Bachtiar Abdul Fatah yang merupakan karyawan yang bertugas mengurusi masalah bioremediasi yang merupakan upaya pemulihan kerusakan tanah yang disebabkan oleh eksplorasi minyak di area sumur minyak yang Chevron buat di Indonesia.

Chevron merasa bahwa keputusan MA merupakan kriminalisasi terhadapat korporasi atau perusahaan mengingat bahwa secara akal sehat tidak mungkin bahwa karyawannya itu bersalah. Chevron menegaskan bahwa seluruh biaya bioremediasi sepenuhnya dibayar oleh Chevron dan tak ada sedikitpun dana pemerintah yang digunakan untuk proyek bioremediasi ini. Artinya pemerintah dalam hal ini MA terasa aneh jika harus menghukum tiga karyawan Chevron yang menurut Chevron tak bersalah.

Chevron merasa bah pusaran kasus ini harus diselesaikan dengan cara yang benar dan transparan. Sungguh satu kekecewaan karena ini merupakan pelajaran korporasi atau perusahaan yang tidak biasa. Saat ini ketiga Chevron tersebut divonis hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp. 200 juta rupiah. MA beralasan bahwa ketiga karyawan tersebut telah melakukan pelajaran atas proyek bioremediasi yang dilakukan Chevron untuk mengatasi kerusakan tanah akibat eksplorasi minyak sehingga merugikan negara hinga ratusan miliar rupiah.

Keputusan tersebut kini sudah diturunkan tinggal bagaimana kedua belah pihak lebih saling berkonsolidasi. Permasalahan tentang bioremediasi harusnya tidak menjadi masalah berkepanjangan mengingat bioremediasi merupakan upaya penyelamatan lingkungan yang harusnya diperhatikan secara seksama hasilnya untuk Indonesia. Chevron berharap kedepanya kasus kau seperti ini tidak ada kesalahpahaman lagi sehingga tak ada lagi kasus kasus yang mengganjal seperti ini. Jikalau memang ketiga karyawan tersebut benar benar bersalah maka yang berhak menghukum adalah Chevron mengingat seluruh pendanaan berasal dari Chevron sendiri dan tak ada ikut campur pemerintah. Jadi tunggu sampai kabar selanjutnya dari kedua belah pihak.

[MuhammadKhotib/HD]

Tags: