Kabinet Jokowi Tidak Harus Ramping Atau Gemuk Tapi “SEKSI”

Kabinet Jokowi

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Hingar bingar perpolitikan bangsa ini lambat laun sudah mulai mendingin. Masyarakat kembali ke aktifitasnya masing-masing tanpa meninggalkan informasi tentang perpolitikan. Meskipun ada isu tentang penjegalan pelantikan presiden terpilih jokowi, namun menurut hemat penulis hanya isapan jempol tidak punya landasan konstitusi. Riak-riak kecil tersebut bisa jadi dihembuskan segelintir lawan politiknya karena rasa kecewa, tapi tidak menutup kemungkinan juga justru dari pendukungnya untuk mencari simpati dan empati masyarakat luas seolah-olah jokowi di”dholimi”.

Terlepas dari itu semua, masyarakat sebenarnya lebih tertarik pada harapan agar Jokowi-JK merealisasikan program-program ketika masa Kampanye. Kita masih ingat stetemen Presiden terpilih Jokowi tentang gambaran kedepan seperti apa postur kabinet yang akan dibentuknya. Kabinet ramping merupakan pilihan mereka ketika masih dalam masa-masa kampanye Pilpres. Alasan pembentukan kabinet langsing adalah lebih mudah kordinasi efektif, efisien dan tidak membebani anggaran Negara.

Persis hari senin tanggal 15 Oktober 2014 Presiden dan Wakil presiden terpilih Jokowi-JK mengumumkan bahwa dalam membentuk kabinet akan mempertahankan komposisi kabinet sebelumnya yaitu Kabinet Indonesia Bersatu II yang berjumlah 34 kementerian. Stetemen Jokowi yang menarik adalah “Saya berikan contoh, negara tetangga Malaysia jumlah penduduknya 24 juta kementeriannya ada 24. Sedang kita 240 juta penduduknya, kementerian harusnya 240,” kata Jokowi saat jumpa pers di Kantor Tim Transisi, di Jakarta.

Pelik membuat para pengamat tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan Jokowi. Menurut hemat penulis sah-sah saja jokowi mempertahankan jumlah kementerian tetap 34 dengan penggabungan beberapa kementerian atau perubahan nama kementerian. Kita harus menghormati keputusan beliau karena tidak melanggar konstitusi negara kita. UU nomor 39 tahun 2008 pasal 15 menjelaskan bahwa “Jumlah keseluruhan Kementerian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 13, dan Pasal 14 paling banyak 34 (tiga puluh empat).

Namun juga tidak salah ketika banyak pengamat menyesalkan keputusan Jokowi tetap mempertahankan postur kabinet sebelumnya dimana berjumlah 34 kementerian yang dianggap kabinet gemuk. Dalam etika politik, masyarakat akan menilai bahwa disini Jokowi tidak mampu memenuhi janjinya akan membentuk kabinet ramping ketika kampanye.

Dalam teori Struktur Kontingensi, Lawrence dan Lorsch (1967) mengatakan bahwa organisasi dan lingkungan bagaikan dua gambar pada sebuah mata uang, mereka mengemukakan bahwa ketidakpastian dan perubahan lingkungan akan sangat mempengaruhi perkembangan pada struktur internal organisasi. Menurut teori ini, hubungan antara satu organisasi dengan lainnya maupun dengan lingkungannya secara keseluruhan,

Penjelasan kaitan pembentukan kabinet jokowi dengan teori organisasi adalah bagaimana pembentukan organisasi (kabinet) harus berdasarkan permasalahan lingkungan (masyarakat) yang akan dihadapinya. Sebelum bembentukan organisasi, masalah di masyarakat diiventarisir, diorganisir dan diolah sehingga menjadi beberapa kelompok permasalahan. Dari pengelompokan masalah inilah seharusnya menjadi acuan dalam pembentukan sebuah Kementerian.

Melihat pembahasan diatas, maka berapapun jumlah kementerian (tetap berdasar UU nomor 38 tahun 2008) sebenarnya tidak terlalu penting. Maksudnya mau berapapun jumlah kementerian yang dibentuk, selama itu benar-benar dibutuhkan maka merupakan hal yang sangat wajar. Jadi pembentukan kabinet posturnya tidak harus ramping atau gemuk, namun lebih pada propusional. Untuk menjebatani istilah kabinet ramping atau gemuk maka lebih tepatnya penulis sebut kabinet “Seksi”.

Erik Kurniawan S.Sos - Guru SMPN 17 Depok

Tentang Penulis               :

Nama                                 : Erik Kurniawan, S.Sos

Pekerjaan          : Guru PNS di SMPN 17 Depok

Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPS-UPI Bandung

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)