Etika Politik “Menang Tanpa Ngasorake”

politik

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Demokrasi merupakan pilihan yang dianggap tepat untuk diterapkan di Indonesia saat ini. Berjalannya waktu setelah rezim Soeharto tumbang, Indonesia memulai babak baru namanya Reformasi. Pada Orde reformasilah harapan demokrasi akan dijalankan dengan sebaik-baiknya tanpa dikebiri sehingga reformasi disambut seluruh lapisan masyarakat secara suka cita dengan harapan akan adanya perbaikan dalam sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam membangun demokrasi yang perlu diperhatikan salah satunya adalah adanya partai politik. Partai politik memainkan peran siknifikan karena memiliki posisi (Status) dan peranan (rule) dalam setiap system demokrasi. Menurut Schattscheider (1942) bahwa “Political parties created democracy”. Jadi partai politiklah yang sebenarnya menentukan demokrasi karena memiliki peranan strategis dalam hubungan antara pemerintahan dengan warga negara. Demi memperkuat keberadaan demokrasi maka partai politik perlu dilembagakan. Seperti yang dijelaskan pula oleh  Schattscheider yaitu “Modern democracy is anthinkable save in terms of the parties”.

Dari penjelasan diatas, tidak sedikit yang mengkritisi bahkan skeptis terhadap pernyataan tersebut. Mereka menyebut partai politik tidak lebih sekedar kendaraan politik yang digunankan untuk ambisi mengejar kekuasaan. “Napsu birahi” kekuasaan yang dikelola sedemikian rupa sehingga mampu memikat masyarakat untuk memilihnya. Sekelompok elit dengan mengatas namakan rakyat, memperjuangkan aspirasi rakyat, penyambung lidah rakyat dan se”abrek” slogan mereka bersekutu untuk saling memperebutkan kekuasaan.

Beberapa bulan yang lalu bangsa ini seolah-olah terbelah menjadi dua kelompok besar masyarakat. Politik membelah rakyat ini dengan istilah pendukung Koalisi Merah Putih (KMP) yang mengusung Prabowo-Hatta dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mengusung Jokowi-JK. Hasil yang terjadi dalam PEMILU bahwa rakyat memberikan mandat kepada pasangan Jokowi-JK. Ketika ada yang tidak puas terhadap hasil tersebut, maka konstitusi memberikan jalan untuk mengajukannya ke MK dan MKpun memperkuat hasil PEMILU bahwa Jokowi-JK adalah presiden dan wakil presiden terpilih.

Dinamika selanjutnya adalah pergeseran pertarungan berada didalam parlemen. Di dalam parlemen, KMP menunjukkan keberhasilannya dibandingkan KIH. Rentetan kemenangan KMP di parlemen dimulai dari pengesahan Undang-undang MD3, pengesahan tata tertib DPR, pengesahan Undang-undang Pemilihan kepala Daerah (Pilkada), pemilihan pimpinan DPR dan terakhir adalah pemilihan pimpinan MPR. Bahkan tidak menutup kemungkinan KMP akan mampu memperebutkan jajaran kepemimpinan di alat kelengkapan DPR maupun MPR, seperti hanya yang terjadi di Depok bahwa KMP (Fraksi Gerindra, PKS, PPP, PAN, dan Golkar) menguasai pimpinan di alat kelengkapan dewan di DPRD Depok

Kemenangan Kubu KIH di eksekutif maupun Kubu KMP yang memenangi di Legislatif memicu kegaduhan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebenarnya bukan dampak langsung dari kemenangan KIH atau KMP, tapi lebih pada pernyataan-pernyataan elit yang memperkeruh situasi ini. Elit politik seharusnya mempertontonkan sikap yang mencerminkan budaya ketimuran yang arif dan bijaksana. Meskipun demokrasi berasal dari istilah luar negeri, namun akar budaya kita sesunggung mencerminkan etika demokrasi dan etika berpolitik yang baik.

Kearifan local kita mengajarkan bagaimana bersaing/berkompetisi dengan baik. Menurut Caroline Nyamai-Kesia (2010) bahwa kearifan local adalah pengetahuan yang diselenggarakan dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budayasekitarnya. Sebagai bangsa yang memiliki budaya majemuk, elit politik sebaiknya berpijak pada kearifan local yang telah membesarkan dan mendidik mereka semenjak kecil.

Berhubung Jokowi dan Prabowo S. berasal dari jawa harusnya mereka tahu dan menjalankan tentang nilai bersaing dalam memperebutkan kekuasaan. Nilai kearifan local Jawa mengajarkan bagaimana setelah menang memperlakukan yang kalah. Nilai kearifan local itu adalah “Menang Tanpa Ngasorake”. Nilai ini dapat dijelasakan bahwa kemenangan yang kita inginkan jangan sampai merendahkan orang lain dalam arti menang tanpa menghinakan, tanpa mempermalukan. Menang dengan elegan, menang dengan gagah, menang dengan jiwa besar , namun lawan tetap bisa menegakkan kepala tanpa dinistakan. Ketika lawan yang kalah dibesarkan hatinya, maka terjadilah keharmonisan dan mempererat kerukunan.

Selama elit partai, elit koalisi dan juga elit bangsa berpegang pada saling menghormati tanpa merendahkan satu sama lain, maka bangsa Indonesia akan menuju masa depan yang lebih baik. Memperkuat kepribadian elit bangsa dengan akar budaya yang dimiliki masing-masing elit maka akan memperkuat pula kepribadian masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia. Demokrasi Indonesia perlu satu paket dengan kearifan local sehingga kemajuan bangsa tidak akan meninggalkan budaya tapi justru melestarikan budaya sebagai pijakan dalam berperilaku.

Erik Kurniawan S.Sos - Guru SMPN 17 Depok

Tentang Penulis               :

Nama                                 : Erik Kurniawan, S.Sos

Pekerjaan          : Guru PNS di SMPN 17 Depok

Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPS-UPI Bandung

 

 

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)