Teladan Jenderal Gagah Berparu-paru Sebelah

Jenderal Berparu-paru sebelah 

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Ditengah hiruk pikuknya perpolitik Indonesia, kita justru disuguhi pemandangan yang jauh dari ketauladanan. wakil-wakil rakyat mempertontonkan perilaku tidak pantas untuk ditiru. Sebagai anggota dewan terhormat tidak bisa menjaga kehormatannya dimata masyarakat. Sentilan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, yang menyebut anggota DPR punya sifat seperti sekumpulan murid taman kanak-kanak (TK) sepertinya masih relevan.

Melihat fenomena tersebut, sebagai seorang pendidik saya merasa miris. Dalam teori Social Learning, Albert Bandura menjelaskan bahwa belajar merupakan pemerolehan complex skill and abilities atau kemampuan dan keterampilan kompleks melalui pengamatan modeled behavior atau perilaku yang diteladani beserta konsekuensinya terhadap perilaku individu (Bell-Gredler: 1986: 235-253). Belajar menurut teori social learning merupakan interaksi segitiga antara lingkungan, factor social dan perilaku. Dari penjelasan tersebut, maka mendidik peserta didik membutuhkan sosok yang perlu diteladani. Pertanyaannya, apakah bangsa yang besar ini memiliki seseorang yang bisa dijadikan teladan? Saya kira jawabannya adalah masih banyak sosok yang bias dijadikan teladan.

Meminjam istilahnya Presiden pertama RI “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dalam rangka hari jadi TNI ke 69, penulis membahas Bapak tentara Indonesia sebagai teladan dalam kaitan pendidikan karakter. Kita akan terkesima dengan salah satu pahlawan kita yang tidak terjerumus dalam dunia perpolitikan. Namanya menjadi nama jalan diberbagai kota di tanah air. Bahkan namanya juga dijadikan sebagai nama salah satu universitas besar di Indonesia. Putra dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem inilah yang menentukan Negara ini kembali dijajah Belanda atau merdeka. Dialah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pribadi sederhana yang religius, sejak muda aktif di organisasi kepanduan dibawah naungan Muhammadiyah. (Sengaja penulis tidak secara detail mengulas sejarah Pangsar Jenderal Soedirman, yang jelas akan selalu terharu, ‘mbrebes mili’, meneteskan air mata ketika membaca sejarah beliau)

Banyak nilai sebagai pendidikan karakter yang dapat dipetik dari sosok Jenderal gagah yang berparu-paru sebelah ini. Ya betul, jenderal yang berparu-paru sebelah karena menderita tuberculosis kemudian mengalami infeksi paru-paru maka paru-paru sebelah kanan dikempiskan. Pendidikan karakter sendiri menurut Thomas Lickona. Lickona adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

Dari 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social dan Tanggung jawab semua ada dalam diri Pak Dirman (Panggilan Pangsar Jenderal Soedirman). Nilai karakter yang ada dalam diri pak Dirman sangat pas untuk membentuk peserta didik agar memiliki keseimbangan soft skill dan hard skill.

Dadang Supardan (2014:100) menjelaskan Soft Skill adalah kualitas diri seseorang dengan kepribadian dan keahlian social yang dimiliki setiap orang dengan kemampuan ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain (inter-personal skill) dan ketrampilan mengatur dirinya sendiri (intra_personal skill) yang mampu mengembangkan untuk kerja secara maksimal. Kemampuan soft skill yang dimiliki peserta didik akan menjadikan mereka mudah berinteraksi dan bersosialisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Modal sosial sangat penting digunakan disemua organisasi social mulai dari keluarga, lingkungan sekitar, sekolah bahkan nanti didunia kerja.

Sedangkan hard skill masih menurut Dadang Supardan (2014:100) adalah merupakan kualitas diri seseorang dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmu yang dipelajari. Jadi selain modal sosial, peserta didik juga dibekali dengan ilmu pengetahuan dan teknologi karena kita berada di abad modern dimana teknologi berkembang dengan pesat.

Kedua bekal soft skill dan hard skill diharapakn menjadi modal utama untuk peserta didik menghadapi masa depan. Sehingga peserta didik tidak menjadi manusia yang biasa dan menjadi hal yang biasa saja (taken for grnted) tetapi dari sosok biasa menjadi sosok yang luar biasa seperti Pangsar Jenderal Soedirman.

Erik Kurniawan S.Sos - Guru SMPN 17 Depok

Tentang Penulis               :

Nama                                 : Erik Kurniawan, S.Sos

Pekerjaan          : Guru PNS di SMPN 17 Depok

Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPS-UPI Bandung

 

 

 

[AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)