Pendidikan Profetik Dalam Kurikulum 2013

 Kurikulum 2013

HarianDepok.com – Suara Pembaca , Pendidikan merupakan salah satu pranata yang penting dalam proses perubahan social. Kaitan pendidikan dengan perubahan social adalah semakin maju pendidikan dimasyarakat maka akan semakin cepat perubahan itu terjadi. Kita membayangkan bagaimana seandainya pendidikan itu tidak berlangsung baik, bisa jadi masa sekarang masih sama dengan masa lalu. Melihat fenomen itu, maka pendidikan memiliki sumbangsih yang besar bagi perubahan social.

Sumbangsih pendidikan pada perubahan sosial lebih pada bagimana perubahan sosial itu mampu membangun masyarakat lebih baik. Dunia pendidikan perlu melakuakn perubahan-perubahan yang sifatnya progress. Penyesuaikan kurikulum tentang masalah kekinian diharapkan mampu menjawab perkembangna masa depan. Mainset perubahan pendidikan haruslah memenuhi kualifikasi yang diharapkan, maka titik tekan yang harus diperhatikan antara lain dimensi Pengetahuan (Knowledge), dimensi ketrampilan (Skill), dimensi nilai dan sikap (Values and Attitudes) dan dimensi tindakan (Action). Seperti halnya perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara,dan peradaban dunia (Permendikbud No 68 th 2013).

Salah satu poin penting dari tujuan kurikulum 2013 di atas  adalah “…kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman…”. Kita menyadari bahwa keimanan seseorang sangat penting dalam berkehidupan. Tapi sayangnya pendidikan yang kita alami mencetak kita agar bangga dan senang akan nilai berupa angka-angka koqnitif. Dimensi nilai dan sikap (Values and Attitudes) masih jarang dijadikan acuan khususnya orang tua murid. Fenomena yang menarik adalah bagaimana anak dan orang tua akan panik apabila nilai mata pelajaran eksaknya kurang baik. Kepanikan tersebut dijawab dengan mengikutkan anak-anak mereka ke berbagai bimbingan belajar.

Apakah hal yang demikian salah besar, saya kira tidak juga. Namun kurang tepat apabila nilai mata pelajaran non eksak kurang memuaskan tapi dianggap sebagai hal yang biasa saja. Bahkan sebagian besar menganggap itu hal yang tidak terlalu akut. Paradigma tersebut masih mengakar disebagian besar masyarakat kita. Masa depan itu akan cerah dan sukses apabila nilai mata pelajaran eksak itu baik.

Hasil pendidikan masa lalu sudah bisa kita lihat sekarang ini. Kita melihat dengan jelas bagaimana outpun lembaga pendidikan kita masa lalu. Kualitas pemimpim-pemimpin kita tidak diragukan lagi dalam tingkat kecerdasan intelektual. Terbukti dengan banyaknya pemimpin atau wakil rakyat menyandang berbagai gelar akademik dan memiliki IPK yang memuaskan.

Pertanyaan yang besar, apakah cukup dengan intelektual kita membangun negara ini, atau dengan gelar yang banyak akan mampu mensejahterakan masyarakat, atau dengan IPK tertinggi akan mampu mencerdaskan masyarakat. Saya yakin tidak cukup hanya dengan hal-hal demikian. Karena tidak sedikit dari mereka yang justru tersandung kasus korupsi, penyalah gunaan wewenang ataupun perilaku amoral. Maka dari itu perlu ada perubahan dalam pembelajaran di pranata pendidikan.

Salah satu indikasi proses pembelajaran itu berhasil adalah memiliki guru-guru yang berkualitas , bukan hanya sekedar banyak pengetahuan melainkan guru yang berpegang teguh pada nilai-nilai ilahiyah (perennial wisdom) dan nilai nilai kearifan local (local wisdom). Guru baiknya memiliki keberpihakan terhadap pandangan bahwa semua mata pelajaran syarat dengan nilai (values) dengan menempatkan agama sebagai sumber spiritual. “…mengajar mata pelajaran apapun harusnya bisa dikaitkan dengan nilai-nilai agama…” (Herry Pansila, Kadisdik Kota Kota depok).

Gagasan tersebut mirip dengan pendidikan profetik, dimana pendidikan profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik (kenabian).

Kurikulum pendidikan tersebut dapat diterjemahkan dengan perkembangan ke arah budaya otonomisasi untuk pengembangan kurikulum dalam perspektif nasional dan lokal dengan guru dan kepala sekolah tidak hanya sebagai pelaksana kurikulum melainkan harus bertindak sebagai pengembang kurikulum (curriculum developer). Kurikulum 2013 menuntut guru memasukkan bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari kehidupan sosial, budaya dan lingkungan sekitar peserta didik. Hal ini bisa dilakukan apabila ada kesinambungan antara nilai orientasi pada tujuan dengan nilai orientasi pada proses belajar.

Tetapi dewasa ini kebanyakan guru lebih akrab dengan buku dibanding dengan kurikulum, lebih akrab dengan isi buku dari pada masalah sosial budaya yang tumbuh dilingkungan masyarakat. Maka dari itu guru dituntut lebih respon terhadap lingkungan sekitar dan mengangkat permasalah lingkungan untuk dijadikan media dan sumber pembelajaran. Dirapkan pembelajaran pada nilai-nilai ilahiyah (perennial wisdom) dan nilai nilai kearifan local (local wisdom) yang terkandung dalam setiap mata pelajaran, akan mampu mencetak siswa-siswa yang berkarakter. Cerdas dalam berintelektual dan baik dalam spiritual.

Erik Kurniawan S.Sos - Guru SMPN 17 Depok

Tentang Penulis               :

Nama                                 : Erik Kurniawan, S.Sos

Pekerjaan          : Guru PNS di SMPN 17 Depok

Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPS-UPI Bandung

 

 

 

 [AndriIdaman/HD]

Tags:
author

Author: 

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Internet Marketers & Publisher)